Jumat, 21 Januari 2011

Sejarah GPDI Tahun 1950 – 1960

Tahun 1950. Pdt.Ho Liong Seng (DR.H.L Senduk) memisahkan diri dan mendirikan Gereja Bethel Indonesia. Tahun 1951 Rev.W.H.Offiler datang ke Indonesia bersama Br. dan Zr.D.G.Peterson mereka juga mengunjungi Langowan. Setelah itu Br. dan Zr.D.G.Peterson tetap tinggal di Langowan untuk membantu Pdt.S.J.Sito mengajar di Sekolah Alkitab.
Pada tanggal 2 Januari tahun 1951, Don dan Carol Peterson bersama Daniel (8½ bulan), berlayar menuju ke Indonesia. Mereka memulai pelayanan mereka di daerah Sulawesi Utara selama lima belas tahun. Mereka juga mendirikan Sekolah Alkitab di Purbasari, Sumatra Utara selama dua belas tahun. Tidak lama setelah pernikahan mereka, Dan Lavonne Peterson berangkat ke pulau Jawa, dimana mereka membantu Sekolah Alkitab di Bedji selama satu tahun sebelum mereka bergabung dengan pelayanan dari orang tua Dan di Sumatra Utara.
Pada tanggal 9-12 Januari 1952. Majelis Daerah dibentuk. Rapat Majelis Agung di Makassar, membahas perpecahan yang terjadi, karena beberapa pendeta keluar dari Gereja Pantekosta lalu mendirikan organisasi serupa.
Tahun 1952, pada tanggal 21 Januari di Surabaya, 22 Pendeta Pantekosta memisahkan diri dan membentuk organisasi gereja baru yaitu Gereja Bethel Injil Sepenuh. Rev.Van Gessel sebagai pemimpin rohani berkedudukan di Surabaya dan Pdt.H.L.Senduk sebagai pemimpin organisasi (Ketua Badan Penghubung) berkedudukan di Jakarta.
Tahun 1951 – 1953. Dalam Musyawarah Nasional ke 16 di Malang terbentuk Majelis Agung yang terdiri dari 24 orang dan Pengurus Hariannya adalah Pengurus Pusat, yaitu:
Pdt.H.N.Runkat (Ketua) – Jakarta
Pdt.R.M.Soeprapto - Malang
Pdt.S.I.P.Lumoindong - Semarang
Karena Pdt S. J. Sito terpanggil untuk pelayanan penginjilan/ceramah Alkitab, sehingga beliau meminta Pdt.D.G.Peterson untuk memimpin Sekolah EI’kitab Bethel di Langowan. Itulah sebabnya mulai tahun 1952 pimpinan sekolah dipegang oleh Pdt.D.G.Peterson yang sudah mulai lancar berbahasa Indonesia. Jadi Pdt.S.J.Sito memimpin Sekolah El’kitab Bethel selama 4 angkatan saja dan mulai angkatan 5 dipimpin oleh Pdt.D.G.Peterson. Rev. W.H.Offiler meninggal pada tanggal 29 September 1957.
Selama pertengahan dan akhir tahun 1950an, Morgan dan Mabel Peterson bergabung dengan Don dan Carol didalam kebaktian Raya dilapangan terbuka didaerah Manado. Tuhan mencurahkan Roh Kudusnya dan banyak orang diselamatkan serta disembuhkan dari penyakit didalam kebaktian-kebaktian ditempat-tempat terbuka tersebut. Mae Perish menjawab panggilan Tuhan didalam hidupnya sebagai penginjil di Indonesia. Pada bulan Juli tahun 1957, Ia berlayar menuju pulau Jawa dan lanjut ke Sulawesi Utara untuk bergabung bersama keluarga Peterson disana. Sementara itu, Mike Hanas meninggalkan Bethel Temple pada tahun 1958 dan berlayar menuju ke Sorong, Irian Jaya, untuk membantu pelayanan dari Bob dan Mary Edmondson berikut pendeta-pendeta penduduk asli disana.
Pada tahun 1956, seorang bernama Soeng Sing Foek menerima kesembuhan illahi dalam suatu KKR di Stadion Teladan Medan yang saat itu dilayani oleh Pendeta W.H. Bolang dari Jakarta. Bapak ini tergerak membeli sebuah rumah besar terletak di Jl. Letjend.S.Parman (dahulu Jl. Padang Boelan) dan dipersembahkan kepada GPdI untuk menjadi rumah ibadah. Pada tahun 1957 Bp.Pdt.A.W.Wakkary, gembala GPdI di Bandung, pindah ke Medan dan menjadi Gembala GPdI Jl.Padang Boelan. Tahun 1971 tanggal 11 Agustus Bp.Pdt.A.W.Wakkary dipanggil pulang oleh Allah Bapa di Sorga.
Penggembalaan jemaat kemudian diteruskan oleh Ibu Pendeta R.N.Wakkary Sorongan. Tahun 1969 pada musyawarah besar GPdI di Surabaya, Bp.M.D.Wakkary dengan resmi dilantik menjadi Pendeta GPdI. Pada tanggal 1 Januari 1981, karena alasan kesehatan Ibu Pdt.R.N.Wakkary Sorongan menyerahkan tugas penggembalaan kepada Bp. M.D.Wakkary. Tahun 1989, Gembala Emeretus Ibu Pdt. R.N. Wakkary Sorongan dipanggil pulang ke Rumah Bapa. Renovasi demi renovasi gedung gereja terus dilakukan menyesuaikan dengan jumlah jemaat yang terus bertambah. Saat ini gedung gereja telah diperluas hingga memiliki ukuran 34 x 34 m persegi, tiga tingkat, dengan luas lahan lebih kurang 2.500 m persegi.
Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Alkitab di Langowan tahun 1956, Sdr.Thomas Wlinggi kembali dan berpraktek dibawah asuhan Pdt.E.Lesnussa di Ujungpandang. Kemudian Ia mengadakan pelayanan di kota Pinarang (dekat Pare-pare) pada tahun 1958 lalu ke Polwali, Bone, Waka, Benteng, dan Perkasanda (daerah Bugis). Namun Ia terpanggil membuka Pelayanan di Sulawesi Tenggara. Karena itu dari Bone ia menerobos ke desa Pemelah Dewa Dewi. Perintisan ditempat ini dimulai dengan bercocok tanam ubi kayu. Di tempat ini Allah menunjukkan mujizatNya. Sebuah gubuk kecil 3 x 4 m dibangun untuk dipergunakan sebagai tempat ibadah dan sebagian untuk tempat berteduh dengan 3 anaknya. Mujizat terjadi pula di tempat ini, orang mati didoakan bangkit kembali dan 13 orang dibaptis dengan air. Gereja direnovasi dengan dinding bambu, kemudian direnovasi lagi hingga ukuran gereja 8 x 19 m, semi permanent. Dari tempat ini ia mengembangkan sayap dan membuka pelayanan di Langori, Towua 11, Hukohuko, Tinondo, Taoree Sp 111, Toare Sp 11 , Welulu, Transad, Wolo. Sekarang di Sulaewesi Tenggara sudah ada lebih dan 60 sidang jemaat.
Tahun 1953 – 1957. Dalam Musyawarah Nasional ke 17 di Langoan (Sulawesi Utara) Pengurus Pusat yang terpilih adalah:
Pdt.H.N.Runkat (Ketua) - Jakarta
Pdt.R.M.Soeprapto - Malang
Pdt.S.I.P.Lumoindong - Semarang
Tahun 1957 – 1961. Musyawarah Nasional ke 18 di Malang telah membentuk Pengurus Pusat baru sesudah meninggalnya Pendeta H.N.Runkat dengan susunan sebagai berikut:
Ketua: Pdt.E.Lesnussa
Wakil Ketua: Pdt.R.M.Soeprapto
Sekjen: Pdt.S.I.P.Lumoindong
Bendahara: Pdt.Kwee Hok To
Komisaris I: Pdt.W.W.Kastanya
Komisaris II: Pdt.L.A.Pandelaki
Komisaris III: Pdt.The Kiem Koei (R.Gideon Sutrisno)
Tahun 1959, Pdt.Ishak Lew keluar dan membentuk Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.
Tahun 1959 GPdI Gatep dilaksanakan pendiriannya oleh Pdt.A.H.Mandey yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Majelis Daerah DKI Jakarta. Gereja Pantekosta di Indonesia Gatep saat itu merupakan salah satu cabang dari GPdI Ketapang sebagai pusatnya, dengan Pdt. Mamusung sebagai gembala, diteruskan oleh Pdt. Ngadio sampai tahun 1982, dan setelahnya sampai sekarang digembalai oleh Pdt. E.Daniel Nanlohy. GPdI Gatep saat ini berada di Jl. Pangeran Jayakarta Gg. Gatep RW.10 Rt.15 No.11.
Tahun 1960 Pendeta Muda Jan Lumentak mendarat di pelabuhan Tanjung Pinang, Pulau Bintan. Ditempat inilah kabar Pantekosta diberitakan dengan gigihnya. Sementara ejekan dan olokan terus menimpa, datanglah Pendeta W.H. Bolang mengadakan kebaktian Kesembuhan Illahi. Sdr.Jan Lumentak meneruskan missi Allah dan ia mengawali pekabaran Injil di Tanjung Balai / Karimun dan Meral. Pada 13 Juni 1964 membuka ladang baru di Dabo Singkep termasuk Desa Raya, Penuba.
Barisan penginjilan diperkuat dengan datangnya Pdm.G.F.Palit dan istri di Dabo Singkep termasuk Desa Raya, Penuba tahun 1960 dan membuka ladang baru di Tanjung Pinang, kemudian di Kijang. Injil Kerajaan Allah terus meluas, tahun 1962 Pdm.G.F.Palit membuka ladang baru di Tanjung Uban.
Sesudah perang dunia ke dua, Bob dan Mary Edmondson turut membantu Sekolah Alkitab yang terletak di Lawang. Ketika Keluarga Edmondson pindah ke kota Sorong, daerah Irian Jaya, Al dan Wilda Bade mengambil alih Sekolah Alkitab tersebut. Sesudah itu yang bertanggung jawab sebagai kepala dari Sekolah Alkitab tersebut adalah Joe dan Jean McKnight, sesudah mereka melayani didaerah Timor, di pulau Roti dan Flores. Diakhir dari kepemimpinan keluarga McKnight, Sekolah Alkitab dipindahkan ke Bedji. Pada saat McKnight memberikan Sekolah Alkitab tersebut kepada Bob dan Marian Brodland ditahun 1965, saat itu ada sekitar empat puluh lima orang yang terdaftar. Selama tiga puluh tahun keluarga Brodland mengepalai Sekolah Alkitab tersebut, ada banyak sekali yang lulus dari sekolah tersebut dari seluruh kepulauan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silankan Mengisi Komentar anda dan email