Minggu, 30 Januari 2011

Fundamentalisme Kristen

Filed under: Tentang Agama — Oni Suryaman @ 8:23 am
Desember 18, 2008



reading_bibleFundamentalisme telah menjadi fenomena masyarakat modern, terutama sekali setelah peristiwa 9/11. Fundamentalisme seolah menjadi bintang panggung, entah sebagai seorang tokoh protagonis atau antagonis. Perhatian orang terhadap agama pun meningkat pesat. Semua orang memakai kata itu, namun sedikit orang yang memahami apa sesungguhnya arti kata fundamentalisme. Sebelum kita masuk lebih lanjut ada baiknya kita melihat terlebih dahulu makna kata fundamentalisme itu sendiri.

Arti Kata Fundamentalisme

Kata fundamentalisme berasal dari kata fundament, yang berarti fondasi atau dasar. Ada juga kata lain yang kerap kali dipakai sebagai sinonim fundamentalisme, yaitu radikalisme, yang berasal dari kata radix, yang berarti akar. Karena itu fundamentalisme bisa diartikan sebagai sebuah gerakan kembali ke dasar atau kembali ke akar. Dengan demikian, fundamentalisme agama berarti gerakan kembali ke ajaran semula, pada ajaran awal agamanya. Pengertian ini memiliki makna positif, karena jika kita menerima bahwa ajaran agama pada dasarnya adalah baik, maka gerakan kembali ke ajaran semula tentunya juga baik adanya. Pandangan ini pulalah yang banyak dipahami oleh para fundamentalis. Pengertian ini juga kerap disertai makna kembali pada masa keemasan di zaman dahulu di mana agama menduduki posisi sentral, dan umumnya masa yang diacu adalah masa umat pertama yang terbentuk di bawah bimbingan nabinya.[1]
Pengertian kedua yang juga sering ditempelkan kepada fundamentalisme adalah literalisme. Artinya mereka memahami arti kitab suci secara literal. Dalam beberapa hal tampaknya ini benar, namun tidak sepenuhnya benar. Mengapa demikian akan dijelaskan pada bagian lain dalam tulisan ini.
Pengertian ketiganya adalah revivalisme, yang berasal dari kata revival yang artinya kebangkitan kembali. Kebangkitan kembali di sini bisa diartikan sebagai kebangkitan iman atas kondisi keimanan masyarakat yang merosot. Kebangkitan ini juga bisa diartikan sebuah perlawanan terhadap ajaran standar yang dilihat telah merosot dan tidak sesuai dengan ajaran asli.
Makna fundamentalisme sendiri bisa dianggap sebagai gabungan dari semua makna di atas, meskipun ragam fundamentalisme sangat bermacam-macam dan kerap kali berubah dari waktu ke waktu. Kata “Fundamentalisme” sendiri sebenarnya melekat pada makna tersebut karena dua belas pamflet yang berjudul “The Fundamentals” yang diterbitkan di Amerika antara tahun 1910-1915.[2] Di dalamnya dimuat unsur-unsur doktrinal yang diakui sebagai “fundamental” bagi iman kristiani.[3] Curtis Lee Laws sendiri, seorang editor di koran The Watchman Examiner, sebuah koran gereja Northern Baptist, di tahun 1920 menuliskan bahwa seorang “fundamentalis” adalah orang yang berani melakukan perang habis-habisan untuk membela fundamen-fundamen imannya.[4] Jadilah kata tersebut melekat dalam penggunaan sampai sekarang.
Meskipun arti literal fundamentalisme sebenarnya kurang tepat untuk menggambarkan seluruh perilaku kaum yang kita sebut fundamentalis tersebut, namun karena faktor historis dan kesepakatan bersama, jadilah kata itu dipakai sampai sekarang untuk menggambarkan suatu subkultur agama yang akan kita bahas di dalam bahasan ini.
Kata fundamentalisme juga sering dikaitkan dengan kata konservatisme. Sulit untuk membedakan secara jelas perbedaan kedua kata ini. Untuk sekadar memudahkan saja, konservatisme biasa dipakai untuk mereka yang memegang ajaran standar agama pada umumnya, dan fundamentalisme untuk mereka yang melakukan tekanan tertentu pada ajaran agama sampai tahap ekstrim. Kedua pembagian ini bukanlah pembagian yang biner, tetapi lebih sebuah spektrum yang kontinyu. Pembagian ini juga bukan pembagian yang mutlak, sebab dalam beberapa contoh yang akan diberikan kemudian, terlihat bahwa beberapa fundamentalis pun bergeser ke arah konservatif seiring dengan waktu dan berubahnya keadaan.

Sekelumit Sejarah Fundamentalisme Kristen

Fundamentalisme meskipun mengklaim diri sebagai sebuah gerakan pemurnian ajaran atau kembali ke masa awal, ia adalah sebuah gerakan modern. Pemikiran tentang fundamentalisme baru mulai muncul ketika gereja sudah mapan di dalam Gereja Katolik Roma, yang memegang monopoli ajaran di abad pertengahan Eropa. Akar dari fundamentalisme Kristen sendiri bisa dirunut mulai dari awal Reformasi, walaupun Martin Luther maupun John Calvin sendiri sulit untuk dimasukkan ke dalam kategori fundamentalis, jika kita memakai ukuran masa kini.
Hal yang menjadi akar bagi fundamentalis yang dirintis gerakan Reformasi adalah tiga prinsip: sola gracia, sola fides, sola scriptura (hanya rahmat, hanya iman, hanya Kitab Suci). Secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut. Sola gracia berarti keselamatan hanya dapat datang dari Tuhan sebagai rahmat dan pemberian cuma-cuma. Ia tidak harus diperoleh dengan mengumpulkan kebajikan atau pahala. Sola fides berarti keselamatan yang merupakan rahmat hanya dapat diperoleh dengan pengakuan iman kepada Yesus Sang Juru Selamat. Ia menjadi satu-satunya jalan mencapai keselamatan. Sola scriptura berarti hanya Kitab Suci yang menjadi petunjuk manusia menuju Allah, dan dengan ini berarti seluruh hukum gereja tidak berlaku. Semua orang berhak melihat apa yang Tuhan inginkan melalui Kitab Suci, tanpa perantaraan imam[5] atau gereja. Ajaran ini juga sering disebut sebagai imamat seluruh umat beriman (priesthood of all believers). Dengan demikian setiap umat beriman boleh membaca dan menafsirkan Kitab Suci, tanpa tergantung pada ajaran resmi. Tuhan menyapa setiap orang melalui Kitab Suci.
Kesemua prinsip di atas adalah reaksi atas monopoli ajaran Gereja Katolik Roma. Mereka lahir dalam sebuah konteks. Imamat seluruh umat beriman misalnya adalah sebuah reaksi atas bobroknya kekuasaan para imam di zaman itu. Luther setelah melakukan penyelidikan di dalam Kitab Suci menemukan bahwa banyak praktek gereja di saat itu bertentangan dengan Kitab Suci. Ia pun menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa yang bisa dibaca awam[6], yaitu bahasa Jerman, karena Alkitab di waktu itu hanya tersedia dalam bahasa Latin dan Yunani yang tidak dimengerti orang biasa (meskipun belum banyak orang yang bisa membaca di waktu itu).
Akar kedua dari fundamentalisme adalah gerakan revivalisme di Eropa. Aliran-aliran baru yang muncul dari revivalisme ini adalah Anabaptisme, Puritanisme, Pietisme, dan Metodism yang lahir kurang lebih mulai dari abad ke-16 sampai 18. Kesemua gerakan ini lahir sebagai reaksi atas makin bergesernya Gereja Protestan ke arah kependetaan, upacara sakramen[7], dan semakin duniawi sehingga mereka melihatnya semacam arah kembali ke Katolik. Puritanisme Inggris misalnya lahir sebagai reaksi atas Gereja Inggris (Anglikan) yang mereka lihat masih memegang ritualisme dan sakramentalisme, dan semakin menyamai kepausan. Mereka lalu sewaktu hijrah ke tanah baru Amerika mempraktekkan agama Kristen sesuai dengan versi mereka.
whitefieldDi daratan Amerika inilah lahir gerakan yang bisa disebut proto-fundamentalisme. Gerakan ini biasa disebut dengan The Great Awakening (1720-1740). Salah satu penggeraknya bernama George Whitefield. Ia berkhotbah dari satu lapangan ke lapangan lain, karena pendengarnya tidak akan cukup kalau dimasukkan ke dalam gedung gereja. Ia sendiri adalah seorang pendeta Calvinis, meskipun terpengaruh oleh gerakan Metodisme yang dibawa oleh John Wesley. Sewaktu ia berkunjung ke Amerika pada tahun 1739-1740, ia menarik massa dengan khotbahnya yang berapi-api, yang berpusat pada hukuman mengerikan bagi para pendosa jika mereka tidak bertobat. Mereka yang hadir larut dalam eforia, terguncang dan menangis secara emosional. Ia sendiri telah mengalami pertobatan sewaktu masih kuliah, dan ia menamakan pengalaman ini sebagai “lahir baru”. Istilah ini dipakai sampai sekarang oleh para fundamentalis untuk menggambarkan suatu pertobatan radikal untuk menerima Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat.
jonathanedwardsDalam catatan tokoh gerakan ini, pendeta Jonathan Edwards, kita bisa melihat bagaimana terjadinya gerakan ini:
Sebelum terjadinya Kebangunan (Awakening), orang-orang di Northampton tidak benar-benar taat beragama. Tetapi di tahun 1734, dua anak muda tiba-tiba mati, dan kekacauan (catatan penulis: yang dikompori oleh khotbah Edward yang emosional) melanda kota. Orang-orang mendadak menjadi religius, dan menyebar seperti virus sampai ke seluruh Massachusetts dan Long Island. Semua orang berhenti bekerja dan hanya membaca Kitab Suci. Dalam enam bulan, tiga ratus orang telah mengalami “lahir baru”. Emosi mereka berubah drastis, dari emosi yang tinggi selangit lalu jatuh terjerembab; kadang-kadang seperti jatuh ke jurang yang dalam karena perasaan berdosa yang tak layak diampuni, lalu bangkit tertawa dan bersukacita sambil menangis karena merasa diselamatkan.[8]
Setelah segala sukacita dan kegaduhan berakhir di Northampton, seorang laki-laki bunuh diri, karena merasa bahwa kehilangan sukacita di dalam dirinya adalah pertanda bahwa ia terkutuk di neraka. Dua orang lain menjadi gila. Yang lain dapat kembali kepada kehidupan seperti semula. Begitu iman menjadi irasional, pengaman yang biasanya terdapat di dalam ajaran agama konservatif menjadi hilang, dan orang dapat dengan mudah terserang segala macam delusi. Ritual dalam ajaran standar biasanya dirancang untuk dapat memberikan perasaan spiritual tanpa membahayakan keselamatan secara psikologis. Pada peristiwa di Northampton ini, mereka tidak melaksanakan ritual tertentu tetapi tenggelam ke dalam eforia massa tanpa aturan, semuanya terjadi spontan. Dan bagi beberapa orang, akibatnya fatal.[9]
Kebangunan Besar Kedua (The Second Great Awakening) terjadi mulai tahun 1790-an di New England, beberapa dekade setelah melemahnya Kebangunan Pertama. Jika Kebangunan Pertama berpusat di daerah utara, Kebangunan Kedua ini berpusat di daerah selatan, di daerah-daerah perkebunan yang banyak mempekerjakan buruh-buruh. Pertemuan tenda banyak diadakan di daerah perbatasan Kentucky dan Tennessee. Belasan ribu orang berkumpul di tenda-tenda untuk mendengarkan khotbah yang berapi-api, menyanyikan lagu pujian, dibaptis di sungai setempat dan berdoa dengan khusyuk untuk keselamatan keluarga dan teman mereka dari api neraka.[10]
Gerakan-gerakan kebangunan seperti ini mengkhawatirkan golongan pendeta yang memegang hirarki gereja. Pertobatan emosional terjadi dalam waktu yang singkat, dan mereka yang berkhotbah adalah pendeta yang mengangkat dirinya sendiri dan kurang berpendidikan. Pada akhirnya terjadi pemisahan dari gereja besar dan membentuk gereja baru yang diperintah oleh umat sendiri.[11]
Lahirnya gerakan ini di Amerika Serikat adalah sesuatu yang patut dicermati. Pertama, Amerika adalah tanah baru tempat pelarian agama-agama yang ditindas di Eropa. Ia lahir di tempat yang belum terjangkau yurisdiksi agama-agama. Di Amerika, di sebuah tempat pelarian, keikutsertaan pada sebuah agama menjadi sebuah kebebasan individu, bukan keterpaksaan seperti di Eropa. Ini adalah sebuah ide yang sungguh modern, di mana kebebasan individu dihargai. Yang kedua adalah konteks sosial ekonomi. Mulai bertumbuhnya kota-kota di Eropa menciptakan masalah baru yaitu kemiskinan di kota yang kumuh. Di Amerika juga terjadi hal yang sama, kota-kota baru terbentuk dan perkebunan dibuka. Gereja-gereja tua yang lebih mapan lambat dalam merespons gerakan ini. Gereja masih berkutat dalam masalah teologi dan terlambat untuk melihat kenyataan bahwa modernisme telah menciptakan sebuah realitas baru. Kemiskinan hanya sekadar menjadi tanda supaya ada kebajikan dari orang-orang yang kaya. Gerakan-gerakan baru seperti Metodis mampu bergerak lebih cepat dan memberikan makna bagi masyarakat kelas bawah ini. Pertemuan-pertemuan mereka lakukan di perkebunan-perkebunan atau di daerah-daerah kumuh. Kondisi ini memberikan sumbangan besar bagi revivalisme yang memang sebagian besar jemaatnya adalah masyarakat kelas bawah.[12]
Gerakan revivalis pertama seperti ini yang melahirkan kelompok baru seperti Metodis di Inggris, Pietis di Jerman, dan Puritan sebenarnya juga melahirkan pembaharuan sosial. Charles Finney (1795-1875), melahirkan banyak gerakan pembaharuan sosial dan karitatif. William Wilberforce (1759-1833) adalah seorang anggota parlemen Inggris yang memperjuangkan undang-undang anti-perbudakan yang berhasil diundangkan pada tahun 1807.[13]
Revivalisme seperti yang diceritakan di atas belumlah membentuk sebuah fundamentalisme modern seperti yang kita kenal sekarang. Mereka lebih seperti reaksi spontan atas kondisi gereja saat itu dan kebetulan bersamaan dengan kondisi sosial masyarakat bawah yang baru terbentuk akibat modernisasi. Fundamentalisme dalam wajah seperti yang kita kenal sekarang baru mulai terbentuk setelah munculnya teologi liberal. Teologi liberal memperlakukan teks Kitab Suci seperti halnya teks lain yang bisa dianalisis dan dikritik. Kritik Tinggi seperti yang dilakukan para sarjana Jerman seperti Wellhausen dan Graf mengatakan bahwa Kitab Taurat, yang secara tradisi dipercaya ditulis oleh Musa, ditulis pada periode terakhir masa Perjanjian Lama oleh para pendeta Yahudi kira-kira abad ke-8 SM. Kritik Tinggi juga melihat bahwa Kitab Taurat ditulis oleh lebih dari satu pengarang dari hasil analisis sastra. Mereka juga mencoba menjelaskan segala peristiwa dan mukjizat dengan metode ilmiah sehingga terlihat lebih masuk akal dan menghilangkan segi keajaibannya.[14]
Hasil penelitian seperti ini merupakan pukulan yang luar biasa bagi mereka yang mempercayai bahwa Kitab Suci adalah wahyu Ilahi yang menginspirasi para nabi untuk menuliskannya dan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci adalah benar kata per kata. Inilah yang memicu munculnya fundamentalisme modern yang berkesinambungan sampai sekarang.
Lubang ketidakpastian yang dimunculkan oleh teologi liberal ini dicoba ditutupi oleh mereka yang membutuhkan kepastian. Salah satunya adalah oleh Arthur Pierson yang ingin membuat Kitab Suci terjelaskan secara benar dan ilmiah di dalam bukunya “Many Infallible Proof” yang terbit tahun 1895. Seminari The New Light Prebysterian di Princeton menjadi benteng aliran Kristen fundamentalis ini terhadap gempuran modernisme. Pada tahun 1873, Charles Hodge yang mengajar teologi di sana menerbitkan buku “Systematic Theology” yang berisikan argumen bahwa Kitab Suci harus dipahami secara literal, bukan alegori atau simbolik. Ia ingin memberlakukan Kitab Suci sebagaimana buku sains yang sistematik dan terbuktikan oleh fakta.[15]
moodyDwight L. Moody, yang dikenal sebagai bapak kaum fundamentalisme Amerika, bergerak lebih maju lagi. Ia mendirikan Moody Bible Institute di tahun 1886 dengan tujuan untuk melahirkan para penginjil yang mampu melawan ajaran Kritik Tinggi yang dinilainya sebagai ancaman bagi umat Kristen. Ia tidak bermaksud mencetak teolog terpelajar melainkan menciptakan para penginjil yang mampu memberikan penjelasan kepada umat biasa yang bingung dengan fakta yang dibeberkan teologi liberal. Ia percaya bahwa teologi liberal-lah yang telah menghancurkan Amerika, dan ia ingin menyelamatkannya. Ia juga seorang premilenialis[16] yang percaya bahwa kondisi tidak akan membaik melainkan akan terus memburuk sampai Yesus datang. Di lain pihak ia memulai kerja sosial dengan memberikan pelayanan sosial bagi orang-orang miskin. Ia juga tidak menutup diri dan mau bekerja sama dengan umat Kristen aliran mana pun, asal orang-orang berdosa mau menerima Kristus dan diselamatkan. Moody Bible Institute bertahan sampai saat ini sebagai salah satu kubu terkuat kaum fundamentalis.[17] Pengorganisasian gerakan fundamentalisme dengan pendirian sekolah penginjil seperti ini menjadi semacam tren. Menjelang 1930, paling tidak ada lima puluh Bible College milik kelompok fundamentalis di seluruh Amerika Serikat. Sewaktu Great Depression berdiri lagi sebanyak dua puluh enam buah.[18]
johnnelsondarbyPerang Sipil yang meluluhlantakkan Amerika juga melahirkan sebuah teologi baru. John Nelson Darby di antara tahun 1859-1877 berkeliling Amerika dan menyebarkan ajaran premilenialisme versinya dengan mengatakan bahwa perang akan membawa ke akhir zaman dan Yesus akan segara datang untuk membereskannya. Salah satu poin penting dalam ajaran Darcy adalah tentang “pengangkatan ke awan-awan” (rapture)[19], orang Kristen yang benar akan menghilang dan terangkat ke surga dan terhindar dari Armageddon yang membawa penderitaan bagi mereka yang tidak percaya. Ayat ini dipercaya secara literal oleh para fundamentalis sampai saat ini dan memegangnya sebagai salah satu kunci sentral ajaran mereka. C. I. Scofield yang menerbitkan The Scofield Reference Bible di tahun 1909 mengukuhkan posisi premilenialis. Ia melihat Kitab Suci sebagai kitab sejarah untuk masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kitab Suci terbitannya penuh dengan referensi sejarah. Tafsir Scofield oleh para fundamentalis dianggap sama sahihnya dengan Kitab Suci itu sendiri.[20]
Perang Dunia Pertama juga dilihat dengan kaca mata yang sama (setelah ternyata Perang Sipil tidak mendatangkan kiamat). Perang yang dahsyat ini dilihat sebagai penggambaran Armageddon dari Kitab Wahyu.[21] Tiga konferensi besar bertajuk Prophecy Conference digelar selama 1914-1918 untuk melihat “tanda-tanda zaman”.[22] Deklarasi Balfour[23] dilihat sebagai pemenuhan nubuat di dalam Kitab Suci yang mengatakan bahwa sebelum zaman akhir umat Israel akan kembali ke tanah terjanji, Palestina. Rusia dilihat sebagai bangsa dari Utara yang akan menyerang Israel sesaat sebelum Armageddon.[24]
Gerakan Protestanisme di Amerika Serikat di antara tahun 1900-1920 melahirkan “Social Gospel” dengan tujuan membawa Tuhan ke ranah publik, di kota dan pabrik. Gerakan ini mendirikan banyak kerja-kerja sosial di penjara, tempat kumuh dan kawasan pabrik. Masa ini adalah masa bulan madu antara kaum liberal dan konservatif. Mereka bekerja sama dalam program-program sosial walaupun berbeda secara ideologi. Kaum fundamentalis melihat bahwa perjuangan melawan kemiskinan adalah sebuah perjuangan melawan setan dan materialisme. Meskipun demikian para fundamentalis kemudian mulai kritis terhadap gerakan ini karena melihat tidak ada gunanya untuk menyelamatkan dunia ini dan lebih baik menunggu kedatangan Yesus. Kemudian mereka mulai memisahkan diri dengan kaum liberal karena kaum liberal mulai bekerja sama dengan kaum kiri. Tetapi mereka masih meneruskan karya-karya sosial mereka.[25]
pentecontalismDi saat yang bersamaan, sebuah arus baru muncul di dalam gerakan fundamentalisme. Gerakan tersebut adalah gerakan Pentekostalisme. Gerakan ini lahir di Parham’s Bethel Bible College di Topeka, Kansas, 1 Januari 1901, saat Agnes Oznam, tiba-tiba meracau dalam bahasa yang tidak dikenal. Tak lama berselang, para pengikut yang lain pun mengalami hal yang sama. Pendeta di gereja tersebut, Charles Parham memahami kejadian ini sebagai pembaptisan oleh Roh Kudus yang membuat mereka “berbahasa roh”, yang mengacu pada kejadian Pentekosta yang tertulis di dalam Kitab Suci. [26] Kejadian ini dilihat oleh para penganutnya sebagai tanda bahwa akhir zaman sudah dekat. Gerakan ini meluas secara nasional dan internasional setelah berpusat di Azusa Street, Los Angeles di bawah pimpinan William Seymor, seorang yang mengalami pertobatan di bawah pendeta Parham. Gerakan ini berpusat pada ekstasi massal yang kemudian berbahasa roh dan penyembuhan baik secara spiritual maupun fisik. Mereka tidak begitu tertarik dengan isi Kitab Suci maupun tafsirnya. Mereka ibarat mempunyai saluran telepon langsung dengan Tuhan.[27] Munculnya arah baru ini tidak diamini oleh seluruh fundamentalis. Gerakan fundamentalis menganggap gerakan ini sesat karena langsung mendasarkan ajaran mereka pada kehadiran Ilahi melalui bahasa roh, bukan pada teks Kitab Suci.[28]
Pukulan berikutnya yang akan membuat gerakan fundamentalisme menjadi ekstrim datang dari penerbitan Origin of Species-nya Charles Darwin di tahun 1859. Meskipun sebenarnya Darwin tidak membahas tentang penciptaan makhluk hidup di dalam bukunya itu, masyarakat Kristen sudah terlanjur menganggap bahwa Darwin mengajarkan penciptaan tanpa Tuhan. Darwin sebenarnya sekadar mengatakan bahwa keanekaragama hayati timbul akibat seleksi alam, yang memang tidak terdapat di dalam Kitab Suci yang mengatakan bahwa segala ciptaan sudah diciptakan demikian adanya sejak awal mula penciptaan. Darwin telah menggeser posisi manusia dari makhluk spesial ciptaan Allah menjadi sama dengan binatang yang tunduk pada hukum alam.[29]
monkeycartoonMulanya masalah evolusi tidak menjadi sebuah permasalahan besar, semata-mata sebuah masalah baru untuk menambah masalah-masalah lama yang memang memisahkan mereka dari kaum liberal. Masalah teori evolusi ini menjadi besar ketika terjadi pengadilan di tahun 1925 atas John Scopes, seorang guru di Dayton, Tennessee, yang mengajarkan teori evolusi di sekolah. Ia didakwa melanggar undang-undang negara bagian Tennesse yang memang melarang pengajaran teori evolusi Darwin. Pengadilan tersebut menjadi medan peperangan antara para modernis rasionalis dan fundamentalis Kristen. Para modernis diwakili oleh pengacara Scopes, Clarence Darrow, sedangkan penuntutnya adalah William Jennings Bryan. Scopes kalah dalam pengadilan tersebut dan didenda $100, yang ditanggung oleh ACLU (American Civil Liberty Union). Tetapi kemenangan sesungguhnya berpihak pada para rasionalis karena di dalam persidangan Darrow berhasil memaksa Bryan untuk mengakui di depan majelis bahwa Bumi lebih tua dari enam ribu tahun, dan mengakui bahwa satu hari penciptaan di dalam Kitab Kejadian adalah lebih dari dua puluh empat jam dan dengan demikian mengakui bahwa Kitab Suci tidak bisa dibaca secara literal. Kemenangan para rasionalis ini mendapatkan publikasi besar-besaran dan ini membuat para fundamentalis makin menutup diri, untuk kemudian bangkit kembali secara lebih fanatik.[30]
billygrahamGerakan fundamentalis mengalami kemunduran setelah kasus Scopes, dan mengurung diri untuk konsolidasi. Di dalam kubu mereka juga terjadi perpecahan. Yang lebih mau bekerja sama dengan golongan lain menamakan diri mereka “evangelis”, sedangkan para “fundamentalis” tetap bertahan dalam kelompok mereka dan menyetankan gerakan lain.[31] Gerakan evangelis ini diwarnai oleh orang seperti Billy Graham yang membawa gerakan ini ke khalayak ramai bahkan sampai ke panggung politik, dan menjadikannya menjadi salah satu penasihat presiden Amerika Serikat.[32]
Fundamentalisme kemudian mulai bangkit kembali dengan menunggang dua isu besar: Perang Dingin dan gerakan persamaan hak sipil. Dalam isu Perang Dingin mereka menunggangi Senator McCharty yang melakukan pembersihan terhadap komunisme di tanah Amerika.[33] Dalam isu persamaan hak sipil, terutama kulit hitam, muncul Ku Klux Klan di daerah selatan yang melakukan gerakan anti-integrasi. Perlawanan juga dilakukan sewaktu ada usulan Equal Right Amendment (ERA). Bangkitnya gerakan liberal seperti hippies, gay dan lesbian ditahun 1960-an, memancing gerakan fundamentalisme untuk melakukan perlawanan keras. Buku Tim LaHaye “The Battle for Mind” yang terbit di tahun 1980 menggambarkan pergulatan ini dalam isu-isu seperti: pelarangan doa di sekolah, ERA, gay, aborsi, “sekular humanisme”, pembatasan hukuman badan terhadap anak, sertifikasi sekolah Kristen, dan penyelidikan terhadap keuangan organisasi gereja.[34]
Era teknologi membuat gerakan fundamentalis juga berevolusi. Tokoh seperti Billy Graham mulai menggunakan televisi sebagai sarananya, dan dimulailah era “televangelis” dan tumbuh berkembang subur sampai sekarang. Di tahun 1979, sebuah poling yang dilakukan Gallup menunjukkan bahwa ada sekitar 1.300 stasiun radio dan televisi evangelis di seluruh Amerika Serikat, dengan pemirsa sebesar 130 juta orang, dan menghasilkan keuntungan sebesar mulai dari $500 juta sampai “milyaran” dolar.[35]
Melihat perkembangan yang luar biasa ini, fundamentalis yang sebelumnya adalah sebuah gerakan yang menarik diri dari dunia yang penuh dosa mulai menyadari kekuatan mereka, dan mulai berani masuk ke dalam kontes politik. Jerry Falwell di tahun 1979 mendirikan gerakan yang dinamai Moral Majority, dengan tujuan untuk mengajak para fundamentalis untuk terlibat di dalam politik dan menggagalkan agenda pemerintah yang mereka sebut sebagai “sekular humanisme”. Kekuatan mereka terlihat dalam terpilihnya wakil Partai Republik Ronald Reagen dalam pemilihan presiden. Gerakan ini sendiri, meskipun awalnya dimotori oleh tokoh fundamentalisme, tidak membatasi diri pada kelompok mereka saja. Mereka mulai merangkul denominasi Kristen yang lain, bahkan Pentekostal, Katolik, Mormon, Yahudi, dan sekularis yang sepikiran dengan mereka sejauh menyangkut agenda-agenda politik.[36]
Besarnya pengaruh mereka bisa terlihat sampai sekarang melalui terpilihnya George W. Bush selama dua periode. Sentimen agama juga selalu didengungkan dalam kampanye presiden Amerika yang baru lalu antara McCain dan Obama. Ini terlihat dari survei yang dilakukan dalam Fundamentalism Project yang dilakukan Marty dan Appleby terhadap penduduk Amerika Serikat:
· 44 persen percaya bahwa keselamatan hanya datang melalui Yesus Kristus;
· 30 persen menggambarkan diri mereka sebagai telah “lahir baru”;
· 28 persen percaya bahwa Alkitab harus dibaca secara literal;
· 27 persen tidak percaya bahwa Alkitab bisa mengandung kesalahan saintifik maupun sejarah; dan
· hanya 9 persen yang menyatakan dirinya sebagai fundamentalis.[37]

Karakteristik Fundamentalisme Kristen

Sulit untuk menyatukan seluruh fenomena fundamentalisme Kristen ke dalam satu kategori. Fenomena fundamentalisme lebih terlihat sebagai sekumpulan fenomena yang tidak tetap dan terus berevolusi sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi. Namun beberapa ciri berikut ini bisa menjadi semacam petunjuk.

Ketiadasalahan (inerrancy) Alkitab

Ciri ini adalah ciri yang paling mutlak dari ciri-ciri lainnya. Berlawanan dengan pandangan umum, cara pembacaan Alkitab kaum fundamentalis tidaklah harfiah. Pembacaan harfiah terhadap Alkitab adalah sesuatu yang tidak mungkin karena di dalamnya terdapat kontradiksi-kontradiksi. Kontradiksi yang terjadi di dalam Kitab Suci tentu tidak bisa diterima oleh kaum fundamentalis. Untuk itu mereka harus mengembangkan suatu teknik pembacaan yang tetap membuat Alkitab tidak mungkin salah.[38]
Cara pembacaan yang memungkinkan untuk menghindarkan kesalahan Kitab Suci adalah dengan berganti-ganti dari pembacaan harfiah dan non-harfiah atau alegoris. Beberapa bagian Alkitab yang mereka tetapkan sebagai fundamen dibaca secara harfiah. Jika ada ayat yang lain yang kelihatannya kontradiktif dengan fundamen yang telah mereka tentukan, mereka akan berganti ke pembacaan non-harfiah.[39]
Cara pembacaan lain adalah dengan melakukan harmonisasi. Harmonisasi adalah sebuah usaha untuk menggabungkan dua versi atau lebih dari sebuah cerita yang sama. Jika misalnya sebuah kejadian digambarkan terjadi di hari Senin di satu versi dan hari Selasa di versi lain, maka usaha harmonisasi yang dilakukan mengatakan bahwa ada dua kejadian, yang terjadi di hari Senin dan Selasa, karena Alkitab tidak mungkin salah.[40]
Usaha untuk membaca Alkitab secara tiada-salah adalah salah satu fenomena modernisme. Dalam sejarahnya Alkitab justru dilihat sebagai mythos, bukan logos. Taurat, sebagai bagian dari Perjanjian Lama di dalam Alkitab dalam tradisi Midrash Yahudi tidaklah dibaca secara harfiah. Setiap kali mereka membaca ayat yang sama, arti yang baru akan muncul sesuai dengan kebutuhan di saat itu. Mereka melakukan hermeneutika yang tidak ada habis-habisnya terhadap teks. Justru karena Taurat bisa memberikan makna yang tiada habis-habisnya, maka IA adalah kitab yang suci. Tidak ada satu pun tafsir yang otoritatif terhadap satu ayat.[41]
Di satu pihak, kaum fundamentalisme menolak modernisme, tetapi mereka justru menerapkan metode keketatan ilmiah terhadap Kitab Suci. Mereka dengan demikian justru adalah anak-anak dari logos, berlawanan dengan tradisi Yudeo-Kristiani berabad sebelumnya yang justru membaca Kitab Suci sebagai sebuah mythos.

Semangat separatis

Semangat separatis juga menjadi ciri yang sangat kuat di dalam kaum fundamentalis. Semangat ini masih berhubungan dengan ciri yang pertama, yaitu ketiadasalahan Alkitab. Di dalam keyakinan teguh terhadap Alkitab, mereka mempostulatkan bahwa ada Injil sejati yang tersembunyi di dalamnya. Hanya merekalah, kaum fundamentalis, yang mengetahui Injil sejati ini, dengan cara pembacaan tertentu terhadap Alkitab. Umat manusia, bahkan gereja, dengan demikian terbagi atas dua kelompok, kelompok yang menerima Injil sejati, dan tidak menerima Injil sejati. Yang menerima Injil sejati akan diselamatkan, dan yang lain terkutuk di dalam api neraka.
Mereka menganggap dirinya sebagai Kristen sejati, dan mengatakan bahwa golongan Kristen yang lain sebagai Kristen nominalis, alias Kristen KTP. Untuk menjadi seorang Kristen dibutuhkan pertobatan sejati yang disebut sebagai “lahir baru”. Pembaptisan yang dalam tradisi Kristen adalah sebuah tanda pertobatan dan keselamatan dianggap tidaklah cukup untuk menjamin keselamatan.[42]
Untuk menekankan perbedaan dengan kelompok lain, mereka menekankan pada kemurnian moral. Mereka melakukan praktek-praktek moral yang dititikberatkan pada kemurnian seksual dan tidak minum minuman keras serta merokok, tidak berjudi, dan menolak hiburan yang tidak sehat. Semakin keras suatu aliran fundamentalis, tekanan pada kemurnian moral ini biasanya menjadi semakin keras.[43]
Ada juga beberapa kelompok fundamentalis yang melakukan pemisahan diri secara mutlak dari masyarakat seperti komunitas Amish, salah satu pecahan kelompok Mennonite. Mereka menolak untuk ikut serta dalam seluruh aktivitas duniawi dan menolak teknologi secara total dengan hidup tanpa listrik dan telepon, karena menganggap bahwa teknologi merupakan godaan yang dapat menghancurkan komunitas dan iman mereka.[44] Kelompok lain seperti Society of Friends yang lebih dikenal dengan nama Quaker, yang merupakan pecahan dari Puritanisme juga menerapkan separatisme. Mereka menitikberatkan ajaran mereka pada “perjumpaan pribadi” dengan Tuhan. Tetapi mereka paling terkenal dengan paham pasifisme mereka dengan tidak mau melibatkan diri dalam perang dengan menolak menjadi tentara, dan kalau pun diwajibkan menjadi tentara mereka hanya mau menjadi pendeta atau paramedik.[45] Begitu pula dengan kelompok Brethren yang terpengaruh oleh gerakan Pietisme. Mereka juga menitikberatkan ajaran pada pasifisme.[46]
Menarik untuk dilihat bahwa justru dari kelompok separatis pasif yang menarik diri seperti Mennonite, Friends, dan Brethren, lahir para pecinta damai yang justru seratus delapan puluh derajat berbeda dengan fundamentalis yang lain yang bercirikan kekerasan. Ideologi pasif dan separatis mereka justru membawa mereka kepada pluralisme dan sekarang ketiga aliran di atas justru menjadi menjadi pelopor perdamaian dan pluralisme yang aktif di Amerika.[47]

Mesianisme

Semangat mesianisme ini paling terlihat dari ajaran premilenialisme. Pandangan premilenialis ini cenderung menjauhkan mereka dari usaha pembaharuan sosial menuju yang lebih baik, karena mereka menganggap bahwa dunia sudah jatuh dan tidak bisa diperbaiki lagi. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanya menunggu kedatangan Juru Selamat.
Penantian Juru Selamat ini biasanya digambarkan secara dramatis. Seluruh sejarah dunia dilihat sebagai menuju zaman akhir. Semakin mereka dilawan, semakin akan menguatkan semangat mereka karena mereka yakin itu adalah pertanda bahwa akhir zaman sudah dekat.
Bukan hanya diri mereka sendiri yang dimasukkan ke dalam skema eskatologis melainkan juga lawan-lawan mereka. Komunisme dan liberalisme umumnya mereka lihat sebagai pengejawantahan dari setan sendiri. Bahkan Liga Bangsa-Bangsa mereka lihat sebagai anti-Kristus dan Uni Eropa yang mulanya beranggotakan sepuluh negara mereka gambarkan sebagai makhluk apokaliptik yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh.[48]
Pandangan seperti ini kemudian ada yang berevolusi ke posmilenialis yang lebih optimis. Tentu saja gerakan ini banyak dicemooh oleh rekan-rekan mereka yang lain dan dianggap sesat. Ini menunjukkan bahwa fundamentalisme juga sebenarnya bukan sesuatu yang stagnan. Ia mampu mengubah dirinya sesuai dengan tantangan zaman, atau dengan bahasa yang lebih negatif bisa disebut oportunis. Di lain pihak jika dilihat secara positif, kelompok posmilenialis ini pada akhirnya justru bekerja sama dengan kelompok liberal dan environmentalis untuk mewujudkan kondisi dunia yang lebih baik.

Militansi dan Reaktif

Militansi adalah sebuah konsekuensi logis dari ideologi separatis. Militansi ini juga diciptakan dari ketakutan yang selalu disebarkan. Militansi ini bisa dilihat sebagai sebuah strategi untuk penguatan komunitas yang merasa dirinya terancam di tengah musuh-mereka.
Ayat yang mereka kutip untuk membenarkan semangat ini adalah:
Tetapi kalian suam-suam kuku; panas tidak, dingin pun tidak. Itu sebabnya kalian akan Kumuntahkan keluar dari dalam mulut-Ku. (Wahyu 3:16)
Mereka juga selalu mendefinisikan diri mereka dengan definisi negatif, sebagai anti-ini dan anti-itu. Ini sebenarnya adalah sebuah politik identitas yang erat kaitannya dengan strukturalisme, yang adalah sebuah anak dari modernisme. Untuk itulah seorang fundamentalis sejati sangat sulit untuk mau bekerja sama di luar kelompoknya.
Militanisme ini dipelihara dengan menekankan semangat separatis terus-menerus ke dalam kelompok. Penekanan ini bahkan diteruskan setelah anggota yang telah bergabung ke dalam kelompok mereka. Dosa dan pengakuan iman terus menerus menjadi tema sentral sebagai pemisah antara mereka yang selamat dan tidak selamat. Pertobatan dan kesaksian dipelihara sebagai ritual yang menunjukkan pemisahan antara mereka yang selamat dan tidak. Tegangan-tegangan yang dipelihara ini menyebabkan semangat militanisme tetap terpelihara.
Militanisme ini juga dipelihara dengan drama eskatologis yang mengangkat pertarungan yang baik dan jahat sampai pada level kosmik. Kelompok-kelompok yang berbeda dengan mereka didemonisasi. Pengikutnya selalu diingatkan bahwa mereka sedang berada pada zaman akhir. Krisis sedang terjadi, baik itu krisis yang nyata maupun krisis yang dipersepsikan oleh para pemimpin mereka. Kesadaran ini juga berkontribusi untuk mempertahankan militanisme mereka.[49]

Menolak modernitas secara selektif

Dari awalnya gerakan fundamentalisme adalah perlawanan terhadap modernisme. Perlawanan ini mulai terlihat dari gerakan revivalisme yang merupakan perlawanan terhadap perubahan sosial yang ditimbulkan oleh awal industrialisasi. Tetapi perlawanan yang paling keras atas modernisme adalah perlawanan terhadap teologi liberal khususnya Kritik Tinggi dalam kritik biblika. Perlawanan yang kedua adalah perlawanan terhadap teori evolusi Darwinian. Dan yang ketiga dan yang paling sering didengungkan saat ini adalah perlawanan terhadap apa yang mereka sebut “sekular humanisme”. Sekular humanisme adalah sebuah kebun binatang yang mereka gunakan untuk menampung segala macam gerakan yang tidak sesuai dengan doktrin fundamentalisme. Di dalamnya termasuk ateisme, agnostisisme, liberalisme, sosialisme, komunisme, gerakan persamaan hak sipil, gay dan lesbian, aborsi, persamaan ras, perjuangan buruh, pluralisme, sains modern, kebebasan pers, dan lain-lain.
Meskipun mereka menolak modernisme dalam arti luas, tetapi mereka secara terbuka sebenarnya mengakui bahwa mereka sebenarnya mengadopsi modernisme dalam bentuk tertentu, yaitu secara Baconian. Bacon sebagai seorang rasionalis awal mengatakan bahwa kita tidak bisa mempercayai indra kita sepenuhnya dan harus bergantung pada rasio kita. Mereka menerapkan logika deduktif Francis Bacon dengan menggunakan Kitab Suci sebagai premis. Dan mereka menurunkan semua kebenaran sains yang mereka anut berdasarkan prinsip ini. Tentu saja ini bertentangan dengan logika sains yang telah menganut logika induksi yang mengumpulkan data dan kemudian menganalisisnya dan mengambil kesimpulan darinya. Prinsip-prinsip induksi yang dipakai sains ini tidak bisa mereka terima dan mereka klaim sebagai sesat dan bertentangan dengan Kitab Suci.[50]
Penolakan mereka terhadap sains juga adalah sebuah tindakan yang ahistoris. Calvin dan Luther sendiri tidak mengharapkan Alkitab untuk menjadi sebuah kitab sains. Orang yang ingin belajar astronomi harus mempelajarinya di tempat lain, bukan di kitab suci. Kitab Suci dianggap benar sejauh menyangkut masalah hubungan manusia dengan yang ilahi, bukan benar secara sainfitik.[51]
Penerimaan kaum fundamentalis paling jelas terlihat dengan diterimanya teknologi, teknik-teknik komunikasi massa dan korporasi dengan basis laissez-faire. Mereka memanfaatkan media sepenuh-penuhnya. Billy Graham sendiri berkata, “Saya menjual produk terbesar di dunia. Mengapa produk saya tidak boleh dipromosikan sama baiknya dengan sebuah sabun?”[52] Mereka menggunakan teknik-teknik komunikasi massa bahkan psikologi tercanggih untuk melahirkan sebuah produk agama yang mudah dikonsumsi umum, dan yang paling penting membuat massa tergantung pada mereka sehingga terus kembali untuk mengonsumsi. Gereja-gereja harus bersaing ketat untuk mendapatkan umat (baca: uang) sehingga mampu mempertahankan eksistensi mereka.
Fundamentalisme adalah bisnis milyaran dolar, dengan jaringan media, penerbitan, sekolah, bahkan museum dengan menciptakan sebuah subkultur tersendiri. Mereka tidak tergangggu oleh kenyataan bahwa fundamentalisme kini telah menjadi sebuah bisnis besar yang mendatangkan uang, padahal hal ini bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri yang menolak kekayaan duniawi.[53] Mereka berkhotbah kepada umatnya agar menyumbang demi kerajaan Allah dan mendahulukan gereja. Tetapi mereka sendiri hidup mewah seperti The Bakkers pemilik jaringan Praise The Lord and People That Love yang menghabiskan $375 ribu untuk kondominium mereka yang mengarah ke laut dan $22 ribu untuk membeli kaca setinggi langit-langit untuk kondo mereka.[54]
Dan yang paling jelas adalah, secara tradisional kelompok fundamentalis adalah pendukung kelompok korporasi yang tidak menginginkan regulasi pemerintah sebagai pembatas gerakan mereka. Mereka adalah kantong suara Partai Republik yang lebih banyak berpihak pada korporasi, dan menolak kebijakan seperti menaikkan pajak dan menaikkan tunjangan sosial.
Menarik untuk dilihat bahwa para pengikut gerakan fundamentalis yang mengutuk modernisme, ternyata banyak di antara mereka yang diuntungkan oleh modernisme itu sendiri. Karakteristik pengikut gerakan revivalisme di abad ke-18 yang sebagian besar adalah masyarakat bawah tidak lagi berlaku untuk fundamentalisme modern. Seorang dokter yang memakai teknologi modern untuk menyembuhkan pasiennya dengan teknologi paling mutakhir bisa saja percaya bahwa Bumi diciptakan enam ribu tahun yang lalu. Ini disebabkan oleh karakteristik perkembangan ilmu pengetahuan yang menuju spesialisasi sehingga seorang tidak perlu menguasai seluruh kaidah-kaidah dasar ilmu pengetahuan untuk bisa menerapkannya.[55]

Kesimpulan

Fundamentalisme adalah sebuah fenomena modernisme yang tidak akan lahir tanpa modernisme. Pertama, ia adalah reaksi terhadap modernisme itu sendiri. Modernisme telah menghilangkan misteri yang penting dalam sebuah agama. Sains telah menghilangkan kepastian Alkitabiah menjadi sebuah eksplorasi sains yang tidak pasti. Kehilangan pijakan seperti ini adalah sesuatu yang mengerikan bagi para pemeluk agama. Untuk keluar dari ketidakpastian ini mereka melakukan gerakan ekstrim yaitu kembali ke Kitab Suci dengan cara mereka sendiri. Kedua, meskipun mereka menolak modernisme, mereka secara selektif sebenarnya juga memakai modernisme, khususnya teknologi, organisasi dan korporasi.
Caputo melihat bahwa fenomena fundamentalisme yang mau mengerangkeng misteri yang dulu diekplorasi secara mythos menjadi sesuatu yang pasti dan sistematik—sebuah logos—adalah sesuatu yang sia-sia. Jika ia dilakukan, yang terjadi adalah justru sebuah gangguan mental, karena mencoba memasukkan air seluruh samudra ke dalam botol. Gangguan mental inilah yang kemudian melahirkan segala bentuk kekerasan yang lazim terlihat sebagai ciri dari fundamentalisme itu sendiri.          



Artikel dicopy dari :
http://onisur.wordpress.com/2008/12/18/fundamentalisme-kristen/




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silankan Mengisi Komentar anda dan email