Jumat, 21 Januari 2011

F.G.Van Gessel

Pada suatu hari di tahun 1935 seorang hamba Tuhan berkebangsaan Belanda bernama F.G.Van Gessel membaca Alkitabnya. Beliau baru saja pulang dari Pacet, daerah pegunungan di Jawa Timur. Di sana beliau bergumul dalam doa puasa bersama hamba-hamba Tuhan lainnya selama tiga hari.
Ketika membaca Yohanes 1:14 beliau menerima wahyu Tuhan. Tidak seperti biasanya ayat itu dibaca sebagai: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita". Beliau membacanya seperti yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kata "berdiam" diganti dengan kata "tabernakel". Jadi ayat itu menjadi "Firman itu menjadi daging dan bertabernakel di antara kita".
Pengertian tentang istilah asli Yunani "skenoo" dan latar belakang pelajaran tabernakel memberikan beliau pengertian yang lebih luas tentang ayat tersebut. Hal ini membuat beliau berkeinginan untuk mengadakan pelayanan yang berpusat pada pengajaran Tabernakel. Ini merupakan cetusan pelayanan yang kemudian dinamakan Kabar Mempelai Internasional.
Tak terbayangkan bahwa F.G.Van Gessel akan dipakai Tuhan untuk melahirkan suatu pelayanan dalam gereja di Indonesia yang kemudian hari berkembang mencapai negara-negara lain di dunia.
F.G.Van Gessel lahir di Blitar, Jawa Timur pada 9 Desember 1892. Memulaikan kehidupannya sebagai pekerja di perusahaan minyak yang dikelola pemerintah Belanda. Tetapi pada tahun 1923 beliau berhenti dari kedudukannya yang tinggi di perusahaan itu untuk memenuhi panggilan Tuhan dalam suatu penglihatan tentang Anak Domba Allah, Yesus sebagai Mempelai Pria Surga. Ketika itu beliau membaca kitab Wahyu 19:7 dan Wahyu 21:9-10. Penglihatan itu diterima sebagai panggilan untuk melayani Tuhan.
Pelayanan 2 orang pengajar injil Amerika yang berasal dari Belanda, Cornelius Groesbeck dan Richard Van Klaveren, serta pengalaman istri beliau dalam baptisan Roh Kudus memegang peranan penting dalam pembaharuan kehidupan rohaninya.
Penglihatan beliau tentang Mempelai Pria Surga membangkitkan gairah yang besar terhadap Allah dan PengajaranNya. Hal inilah yang mendorong beliau bersama sekelompok hamba-hamba Tuhan Indonesia pergi ke desa Pacet di pegunungan Jawa Timur di mana mereka berdoa dan berpuasa selama 3 hari berturut-turut.
Pengertian beliau tentang Yohanes 1:14 sesuah doa dan puasa di Pacet menjadi pusat pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai. Sejak itu beliau menerima pembukaan demi pembukaan rahasia Firman Allah. Ayat itu dipegangnya sebagai janji Allah bahwa pengajaran-pengajaran yang beliau terima dari Tuhan akan makin melimpah dengan berjalannya waktu.
Tahun-tahun berikutnya Van Gessel berkobar-kobar dengan pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai ini. Beliau mendirikan gereja dan sekolah Alkitab di Surabaya. Pengajaran ini menyebar cepat ke propinsi lain di Indonesia. Di antara murid beliau di sekolah Alkitab terdapat seorang suku Jawa bernama In Juwono. Di kemudian hari beliau menjadi hamba Tuhan yang terkenal dalam Kabar Mempelai Internasional di Indonesia.
Pdt. Van Gessel meninggal pada umur 66 tahun (21 Juni 1958) di Hollandia, Niew Guinea (sekarang dinamakan Jayapura, Irian Jaya). Beliau meninggal setelah selesai menyusun semua buku dalam Alkitab menurut susunan dan pengajaran Tabernakel. Apa yang beliau kerjakan terbukti menjadi suatu karya yang penting karena telah menjadi rangka dasar dari penjelasan pada Alkitab. Ini dapat dilihat dari pertumbuhan yang pesat di setiap tempat pengajaran itu diajarkan di kepulauan Indonesia yang luas ini.
Sepuluh hari sebelum meninggal Pdt.Van Gessel mewariskan pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai ini kepada menantu laki-lakinya, Pdt. Carl J.Totaijs yang dengan setia melayani bersama beliau dalam menyebarkan pengajaran ini di Niew Guinea. Tepat seperti dijanjikan Allah, pembukaan firman Allah yang beliau terima menyebar tidak hanya di Indonesia tapi juga di bagian lain di dunia. Bapak Totaijs terus menyebarkan pengajaran ini di Belanda yang menjadi pusat pelayanan internasional. Tugas penyebaran kedua pengajaran tersebut di Indonesia dibebankan terutama kepada Pdt. In Juwono dan hamba-hamba Tuhan lainnya.
Pada tahun 1969 Pdt. Totaijs dan Pdt. In Juwono bergabung dan bekerja sama dalam memajukan Kabar Mempelai. Pdt.Totaijs bersama istrinya, anak tertua Pdt. Van Gessel, ke Surabaya mengunjungi Pdt. In Juwono dan sidang jemaatnya. Mereka memperbaharui ikatan persekutuan dan kerja sama dalam memproklamasikan pengajaran yang diterimanya dari guru mereka, Pdt.Van Gessel. Dengan dukungan beberapa hamba Tuhan di Indonesia dan Belanda pelayanan Kabar Mempelai terus disebarkan. Sampai hari ini 15 dari 27 propinsi di Indonesia telah dijangkau pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai. Dari Belanda berita ini telah mencapai beberapa negara di Eropa, Afrika, Amerika dan Asia.
Tahun 1982 merupakan salah satu tonggak sejarah pelayanan Kabar Mempelai. Untuk pertama kalinya pengajaran ini menyebar menyeberangi perbatasan Indonesia. Dari tempat asalnya di Jawa Timur menuju Manila, Filipina, tempat diadakannya kebangunan rohani besar-besaran. Kebaktian itu diadakan di Rizal Memorial Stadium dan menarik banyak hamba Tuhan dan anggota gereja dari daerah Metro Manila. Pada kebangunan rohani ini Kabar Mempelai diproklamasikan secara resmi dengan nama Kabar Mempelai Internasional.
Di bawah pimpinan Pdt. In Juwono, 425 anggota sidang di Surabaya pergi ke Manila. Mereka disambut hangat oleh pemimpin-pemimpin gereja dari Metro Manila. Peserta lainnya adalah para anggota sidang dari Holland serta Bimas Kristen Protestan dari 5 propinsi di Indonesia. Keikutsertaan secara resmi pemerintah Indonesia merupakan ungkapan pengakuan konkrit tentang pelayanan Kabar Mempelai bagi masyarakat Indonesia. Pengajaran yang kuat mengenai pernikahan misalnya, memulihkan banyak keluarga berantakan di Indonesia.
Kebangunan rohani BTI (Bride Tidings International) di Manila sangat berarti dalam beberapa hal. Kebangunan rohani ini mendapat dukungan tambahan dalam pelayanan ketika hamba Tuhan berkebangsaan Filipina bertindak sebagai penerjemah dalam kebangunan ini. Beliau dan istrinya mengalami pengalaman luar biasa ketika mempelajari pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai di bawah pimpinan Pdt. In Juwono sendiri di Surabaya. Beliau merupakan pilihan yang tepat untuk menerjemahkan Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. In Juwono selama kebangunan rohani di Manila. Hanya oleh keberanian dan hikmat dari Allah, Pdt. Nene Ramientos dapat menerjemahkan Firman Allah kepada orang-orang Manila di kebaktian itu, meskipun beliau hanya belajar bahasa Indonesia selama 3 bulan. Sejak itu Pdt. Nene Ramientos dan istrinya bertindak sebagai utusan pengabar injil BTI untuk dunia. Sebelumnya mereka bekerja sebagai utusan pengabar injil BTI di USA selama 7 tahun.
Dalam pelayanan Kabar Mempelai Internasional ada tiga serangkai, yaitu: Pdt. Totaijs, Pdt. In Juwono dan Pdt. Nene Ramientos, masing-masing didampingi istrinya. Tetapi pada tanggal 12 Mei 1989, Pdt. In Juwono dipanggil Tuhan. Beliau berada pada puncak pelayanannya sebagai ketua BTI Indonesia dan dalam pelayanan internasional secara intensif. Tidak tampak adanya tanda-tanda sakit. Kecuali sekitar dua jam sebelumnya beliau merasakan sakit di bagian dalam. Saat itu juga beliau menyatakan kasihnya yang sangat mendalam kepada Tuhan.
Bagi keluarga BTI, Pdt. In Juwono bagaikan Rasul Paulus yang mengatakan "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."
Buah-buah pekerjaan beliau antara lain Kebangunan Rohani Kabar Mempelai di Medan, Sumatera Utara tahun 1987 dan Konferensi BTI pertama di Surabaya pada tanggal 23-30 Oktober 1988 yang dihadiri oleh lebih dari 1000 gembala dan penginjil dari Indonesia dan 23 negara lainnya. Saat mempersiapkan konferensi BTI ke 2 yang dijadwalkan di Medan, Sumatera Utara pada bulan November 1989 beliau dipanggil Tuhan dengan damai.
Tanpa beliau sebagai pemimpin BTI Indonesia, persiapan-persiapan untuk BTIC (Bride Tidings International Conference) ke 2 hampir-hampir tidak dapat berjalan. Tampaknya iblis menunggu kesempatan. Dengan berpulangnya hamba Tuhan yang adalah ujung tombak BTI Indonesia itu masalah-masalah datang bagai air bah yang siap menelan semua persiapan BTIC itu. Namun penglihatan yang diterima Pdt.Van Gessel tentang pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai tidak sia-sia. Beliau juga melihat bahwa proklamasi dua pengajaran ini akan mencapai ujung dunia dan BTIC ke 2 merupakan mata rantai yang penting.
Setan menyerang dengan gencar tapi Allah mengangkat seorang hamba Tuhan dari Manado yang bernama Pdt. Pong Dongalemba. Beliau menggantikan kedudukan ketua BTI dan menjadi pembicara utama pengajaran Tabernakel di konferensi itu. Beliau diteguhkan dengan khotbah Pdt. Paulus Jedidjah dari Ujung Pandang pada kebaktian petang hari di konferensi.
Tampaknya BTIC ke 2 menghadapi masalah-masalah berat. Karena konferensi hamba-hamba Tuhan di Baguio, Filipina telah dijadwalkan tepatnya 10 hari sesudah Bapak in Juwono meninggal. Tidak perlu diragukan bahwa keluarga BTI sangat kehilangan pemimpin mereka, tetapi tidak ada waktu untuk menoleh ke belakang. Iman mereka teguh kepada Tuhan yang menganugerahkan pembukaan pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai pada Pdt. Van Gessel yang kemudian diteruskan oleh Pdt. In Juwono tanpa kenal lelah sampai akhir hidupnya.
Ibu Annie, pendamping setia Pdt. In Juwono, sekalipun masih diliputi rasa duka bergabung dengan keluarga BTI mengikuti konferensi di Baguio. Bersama Bapak Pdt. Carl J.Totaijs yang memimpin BTI Belanda serta Dr. Nene Ramientos dan istri sebagai utusan BTI di Amerika, tim BTI Indonesia ke Baguio City untuk memenuhi misi memberitakan Kabar Mempelai kepada lebih dari 400 hamba-hamba Tuhan dan penginjil dari gereja penginjilan Methodist Filipina yang datang dari seluruh negara itu. Ini peristiwa bersejarah sebab merupakan pertama kalinya hamba-hamba Tuhan Methodist di Filipina mendengarkan pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai. Firman Allah disampaikan oleh hamba Tuhan yang ditetapkan yaitu Bapak Pdt. Totaijs, Rev. Dr. Nene Ramientos, Bapak Pdt. Pong Dongalemba dan Bapak Pdt. Paulus Jedidjah.
Panitia lokal konferensi Baguio memandang peristiwa ini sebagai hari yang menyenangkan dalam kalender mereka. Pertama kali dalam sejarah gereja mereka di mana grup asing seperti BTI mengambil alih seluruh pemberitaan Firman Tuhan pada konferensi nasional yang diadakan 4 tahun sekali.
BTIC ke 2 berjalan sesuai jadwal yaitu tanggal 7 - 17 November 1989 di Surabaya, bukan di Medan. Pimpinan BTI memandang pemindahan tempat penyelenggaraan BTIC ke 2 ini sebagai peringatan positif dari Allah. Sepertinya Allah menghendaki Surabaya sebagai tempat permanen bagi penyelenggaraan BTIC. Tempat pelayanan 2 hamba Tuhan yang dipilih Allah yaitu Pdt.Van Gessel dan Pdt.In Juwono. Hal ini diteguhkan oleh Bapak Totaijs sebagai pembicara utama Kabar Mempelai di kebaktian penutupan. Surabaya merupakan tempat permanen penyelenggaraan BTIC.
Sementara itu BTI Indonesia giat mengembangkan pengabaran Mempelai di bagian timur, BTI Belanda di belahan barat. Dari Amsterdam dan Den Haag, Bapak Totaijs memimpin tim BTI ke negara-negara Afrika, Amerika Selatan dan India. Mereka menyelenggarakan seminar dengan para gembala dan penginjil. Salah satu hasilnya adalah sebuah Sekolah Alkitab di India. Beberapa hamba Tuhan di Belanda juga menyelenggarakan kebaktian di negara-negara Eropa lainnya.
Pelayanan-pelayanan keluar itu menyebabkan terwujudnya kongres di kota Noordwijkerhout, 30 Km dari Amsterdam. Kongres yang didukung BTI Belanda ini dihadiri oleh hamba-hamba Tuhan dari beberapa negara.
Setelah kongres ini pelayanan-pelayanan lainnya semakin berlanjut. Tiga tahun sebelumnya, 200 hamba-hamba Tuhan mendengar pengajaran Mempelai di gereja BTI di Amsterdam. Mereka merupakan sebagian dari 4000 peserta konferensi internasional para penginjil keliling yang diadakan di kota itu. Mereka juga sangat terkesan dan mendapat berkat dari kesaksian Dr. Nene Ramientos yang pelayanannya telah diperkaya dengan pengajaran Mempelai setelah 30 tahun dalam pelayanan lain. Dr. Nene Ramientos mengundang beberapa peserta konferensi itu untuk datang ke gereja Bapak Pdt. Totaijs. Beberapa dari mereka merupakan teman-teman beliau yang mengenalnya sebagai pemimpin gereja di Filipina yang mempunyai banyak hubungan dengan negara-negara di dunia. Selain dari pelayanan beliau di Amerika dan di Filipina, beliau ikut serta seminar-seminar BTI yang dipimpin oleh Bapak Totaijs dan Bapak Dongalemba masing-masing dengan istri mereka ke beberapa negara di dunia. Bapak Ramientos dan istri juga mendapat undangan untuk mengunjungi Israel, Eropa dan Rusia.
Di dalam wadah BTI Indonesia terdapat seorang hamba Tuhan yang telah banyak pengalaman dalam pelayanan Kabar Mempelai, beliau adalah Bapak Pdt. Pong Dongalemba yang menjadi gembala dua sidang jemaat yang menjadi pusat pelayanan BTI Indonesia. Beliau merupakan anak didik dari Bapak Pdt. In Juwono.
Beliau berketetapan meneruskan mandat dari Tuhan ketika membaca Matius 24:27 "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat demikian pulahlah kelak kedatangan anak manusia". Beliau melihat ayat ini sebagai perintah Allah untuk mengabarkan berita kedatangan Yesus yang kedua kalinya, mulai dari timur yaitu Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Filipina yang beliau harapkan dapat bersekutu dalam pelayanan menuju ke barat sampai ke Yerusalem.
Urutan perjalanan ini merupakan rangkaian akhir perintah agung Allah untuk memberitakan Injil sampai ke seluruh dunia. Mulai dari Yerusalem. Sekarang tiba saatnya putaran itu kembali ke Yerusalem. Sekalipun sampai detik ini bangsa Yahudi masih menjadi seteru Injil, mereka yang sedang menunggu Mesias akan menerima pengajaran Mempelai berita pembangunan Tubuh Kristus.
Sejarah pengajaran Mempelai masih dalam perjalanannya bergerak menuju ke seluruh penjuru dunia. Pelayanan Kabar Mempelai ini menyingkapkan sejarah Mempelai Laki-Laki dan Mempelai PerempuanNya yang diwahyukan kepada hambaNya, F.G.Van Gessel lebih dari 60 tahun yang lalu.
ENGAJARAN MEMPELAI ALKITABIAH bukanlah pengajaran yang hanya menekankan kepada ajaran tentang kedatangan Tuhan saja, tetapi juga mengajar bagaimana Gereja Tuhan harus hidup sesuai dengan kebenaran Firman Allah pada akhir zaman ini bahkan mengarahkan pandangan rohani Gereja Tuhan kepada sasaran yang tepat, yaitu menjadi Mempelai Perempuan Anak Domba Allah!



Meski Dilecehkan Tetap Maju Pantang Mundur

Tidak seorang manusiapun yang mau dan rela dilecehkan, dihina dan direndahkan oleh orang lain. Tetapi bagi seorang hamba Tuhan yang sudah ditebus oleh darah Kristus dan yang telah memutuskan untuk melayani Tuhan, semua itu justru dianggap sebagai suatu tantangan dan ujian yang harus dimenangkan. Memang secara daging, yang namanya pelecehan dan penghinaan itu akan membuat hati panas, tetapi bila semua itu dapat dihadapi dengan terus mengingat tahbisan sebagai imam-imam, maka akan terasa indah pada akhirnya. Apalagi dalam melayani Tuhan kita tidak pernah dibiarkan sendirian dan campur tanganNya begitu besar kita rasakan dalam setiap pelayanan dan kehidupan sehari-hari.

Sehingga apapun yang dihadapi dan terima dari orang-orang yang tidak senang dengan pekerjaan yang dilakukan akhirnya tidak ada artinya lagi. Karena lewat ketekunan dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai rintangan itulah mental seorang Hamba Tuhan akan semakin dikuatkan dan lebih berhati-hati dalam pelayanannya. Apalagi seorang Hamba Tuhan akan menjadi contoh tauladan bagi domba-domba dan masyarakat sekitarnya.

Mengingat akan hal itulah Pdt. Petrus Sunaryo dari Gereja Bethel Indonesia (GBI, red) Desa Bakaran Kulon Pati Jawa Tengah ini mengaku sejak awal sudah siap menghadapi segala rintangan yang ada. Meski secara daging dirasakan sangat berat. Tetapi karena komitmenlah ia dapat bertahan dalam menghadapi segala sesuatunya dan tekadnya untuk melayani Tuhan lebih sungguh-sungguh semakin kuat.

Pdt. Petrus, panggilan akrab pria asal Pati ini saat menerima kunjungan Tim Pelayanan Keluar dari Jemaat Kristus Gembala-Ajaib, Lemah Putro, Surabaya, tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya karena ia merasakan dan melihat kepedulian anak-anak Tuhan begitu besar dan terasa lebih menyatu antara yang satu dengan yang lainnya. Terutama kepada jemaat yang tinggal di pelosok desa.

Dalam kesempatan itu ia menjelaskan, sejak awal ia memulai pelayanannya dengan meneruskan Pengajaran Kabar Mempelai yang telah diterimanya mulai dari Alm. Pdt. In Yuwono dan Pdt. Pong Dongalemba, sekalipun ia berasal dari denominasi gereja lain, yakni Gereja Bethel Indonesia (GBI, red), dan selama 13 tahun menjadi pengerja di salah satu GBI di Pati. Tetapi karena ia memiliki komitmen yang kuat dalam pengajaran Kabar Mempelai tersebut, maka oleh kemurahan Tuhan pada tahun 1987 ia mengajarkan Pengajaran Kabar Mempelai di Desa Bakaran Kulon, Juwono, Pati yang saat itu jemaatnya hanya berjumlah 4 orang.

Berkat campur tangan Tuhan yang luar biasa, jemaat yang pada mulanya hanya berjumlah 4 orang ini, berkembang hingga menjadi 100 lebih jiwa yang terbagi di dua tempat, yakni di Desa Bakaran Kulon, dan Desa Karang Rejo, Kecamatan Juwono, Pati. Dengan bangunan gereja yang cukup bagus dan kegiatan ibadah yang sama dengan yang ada di Gereja Pantekosta Tabernakel pusat (GPT Surabaya, red).

”Waktu itu saya benar-benar merintis dari bawah karena desa tersebut terbilang masih berupa hutan dan penduduknya masih sangat jarang. Demikian pula dengan bangunan gereja yang sangat sederhana dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit. Selama 4 tahun saya menggembalakan 4 jemaat saja. Tetapi saya percaya Tuhan tidak akan membiarkan hambaNya mengalami kegagalan. Dan benar, berkat pertolonganNya, jumlah jemaat kami terus ditambahkan. Puji Tuhan, “ kenangnya.

Dan sungguh ajaib, selama 15 tahun ia menggembalakan domba-domba di kedua desa tersebut, tidak pernah terjadi konflik dengan warga sekitar. Malahan warga sangat mendukung dalam berbagai kegiatan. Sebagai contoh, ketika pembangunan gedung gereja dan pastori di Desa Bakaran Kulon, warga ikut andil dalam pembangunan. Baik secara materi maupun tenaga. Demikian juga saat ada kegiatan gereja dan sebaliknya. Sehingga ia merasakan adanya hubungan yang kuat antara jemaat dan warga setempat yang kebetulan memiliki kepercayaan yang beraneka ragam tersebut.

Mengenai pengenalannya tentang Pengajaran Kabar Mempelai ini, Pdt.Petrus Sunaryo mengungkapkan semua dimulai diadakan KKR Kabar Mempelai di Pati. Waktu itu bertindak sebagai pembicara adalah alm. Pdt. In Juwono. Ketika ia mendengarkan uraian dari Firman Allah yang disampaikan hatinya langsung bergetar dan timbul kerinduan untuk mengetahui lebih jauh tentang Pengajaran Kabar Mempelai tersebut.

Sehingga setiap kali diadakan fellowship, ia dengan tekun terus mengikuti hingga sekarang. Menurutnya, berkat rohani yang diperoleh dari Pengajaran Kabar Mempelai ini sangat luar biasa. Bisa dikatakan pengajaran tersebut yang mengangkat hidup, menyelamatkan rumah tangganya dan mendorongnya untuk tetap setia dalam meng-estafet-kan pengajaran tersebut ke masyarakat luas.

Meski sering diolok-olok sebagai mempelai yang selalu ingin berduaan dan dilecehkan karena pengajaran yang diyakini oleh sebagian orang sebagai pengajaran sesat ini, ia selalu menanggapi dengan senyum dan sukacita penuh. Bahkan di hatinya tidak ada perasaan minder, takut atau putus asa dengan segala macam ejekan yang datangnya justru dari orang-orang terdekatnya. Keyakinannya tetap teguh dan tidak tergoyahkan.

”Terserah orang mau bilang apa tentang keyakinan saya ini. Keyakinan saya tetap teguh. Yang penting saya tetap melaju bersama Tuhan dan saya ingin membuktikan bahwa ajaran yang saya bawa ini bukan ajaran sesat, “ tuturnya dengan penuh keyakinan.

Dan dalam pelayanannya ini pun bapak tiga putra ini tidak memiliki impian yang muluk atau sesuatu yang bersifat sementara saja. Tetapi visi dan misi yang pasti, yakni dapat lebih banyak lagi menjaring jiwa-jiwa baru lewat Pengajaran Kabar Mempelai dan membawa domba-domba yang sudah digembalakan menuju kesempurnaan.

Kesaksian oleh : Pdt. Petrus Sunaryo dari Pati Jawa Tengah



http://jousmanbot.tripod.com

http://the-world-will-end.blogspot.com/

1 komentar:

Silankan Mengisi Komentar anda dan email