Jumat, 21 Januari 2011

Bethel Temple, Seattle

Terima kasih kepada Jim Cahill didalam penyediaan informasi untuk membantu penyelesaian dari penulisan sejarah Bethel Temple.  Jim dikenal sebagai seorang penulis sejarah yang baik hatinya dan sangat membantu didalam mengumpulkan sejarah Bethel Temple yang dimulai dari masa lalu kami. Keinginan kami untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi ke dalam bentuk buku atau ke internet tentang apa yang Tuhan sudah kerjakan dan sedang kerjakan melalui Bethel Temple
Tulisan ini adalah hanya keterangan singkat, silahkan menghubungi R. Powers (Powersrs@fastq.com) apabila saudara memiliki informasi yang membantu melengkapi sejarah singkat dari Bethel Temple
Bethel Temple sekarang dikenal dengan nama Bethel Christian Ministries yang dimulai dari Pine Street Pentecostal Mission yang terletak di pusat kota Seattle antara Second dan Pine. Hari-hari pertama disaat Roh Kudus dengan luar biasanya tercurah di sekitar tahun 1910. 
Sejarah Bethel Temple banyak dipenuhi dengan keajaiban-keajaiban yang Tuhan adakan, pewahyuan-pewahyuan, dan keinginan untuk mengabarkan injil keseluruh dunia. Karena panggilan mulia tersebut, banyak jiwa memiliki kesaksian-kesaksian yang tak terlupakan. 
Pendiri dari Bethel Temple adalah seorang warga negara Inggris yang bernama William Henry Offiler yang pindah ke Canada diawal tahun 1980-an dan kemudian pindah ke Spokane, Washington. Pada waktu di Spokane, Ia menghubungi Salvation Army dan sejak saat itu, Ia memberikan hati dan hidup sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Disana , Ia bertemu dengan istri pertamanya, Gertrude Riley, seorang gadis yang bergabung dengan Salvation Army dan melayani sebagai pemain piano untuk pelayanan di pertemuan-pertemuan yang diadakan Salvation Army. 
Sesudah menyerahkan hidupnya, Pdt. Offiler menerima baptisan Roh Kudus dan dipanggil untuk menjadi pelayan Tuhan full time. Setelah menggembalakan satu gereja kecil di Spokane, Ia dan keluarga pindah ke Glacier National Park di Montana. Disana Ia bekerja sebagai kepala dibagian pipa dan pemanas. Diawal musim panas tahun 1914, Ia meletakkan jabatannya dan bersama keluarganya pindah ke Seattle, dimana Ia mulai datang ke Pine Street Misión. Pdt. Offiler diundang menjadi pembicara didalam kebaktian tenda mereka dekat Fort Lawton dimusim panas tahun tersebut.  Sehabis kebaktian tenda selesai, gembala Bethel Temple, Tatman, mengundurkan diri dan jemaat menerima Pdt. Offiler sebagai gembala baru mereka. Kesempatan tersebut merupakan salah satu rancangan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan dengan kayanya memberkati Pdt. Offiler pada waktu peperangan terjadi. Banyak jiwa dimenangkan, disembuhkan, dan dibaptis dengan Roh Kudus. 
Setelah peperangan berhenti, gereja memiliki dua gerakan didalam kota dan akhirnya selesailah perenovasian gedung yang terletak di Third Avenue dekat Bell Street. Perenovasian gedung terjadi disekitar musim gugur tahun 1920.  Mereka memberi nama Bethel Temple pada gereja baru mereka dan menjadi tempat kegerakan rohani didaerah Barat Laut. Kegerakan rohani terjadi dimana-mana, terjadi pembaharuan-pembaharuan secara badani dan rohani.  Nilai buat pekerja-pekerja, pelayan-pelayan, dan penginjil-penginjil yang melakukan pekerjaan tersebut, karena melalui pelayanan yang Pdt. Offiler dan team lakukan, mereka bisa menjangkau daerah Barat Laut dan sampai keseluruh dunia. 
Api kegerakan-kegerakan rohani ditahun-tahun muda sekitar tahun 1920-an dan tahun 1930-an khususnya, merupakan tanda dari kuasa Roh Kudus yang besar hadir disetiap kebaktian-kebaktian dan banyak jiwa dimenangkan, disembuhkan, dan dibaptis oleh Roh Kudus. Di dua tempat, Bell Street dan Cristal Pool, Bethel Temple merasakan pekerjaan Roh Kudus yang besar. Beberapa penginjil terkenal Amerika melayani teratur disana, diantaranya ádalah W.V.Grant, Paul Cain, Jerry Owen, J.Herman Alexander, Celso R. Grover, Pdt. J.S Eaton, dan Leonard W. Heroo, memberitakan firman Tuhan dengan penuh urapan. Disaksikan bahwa didalam kebaktian yang dipimpim oleh W.V.Grant, penginjil pemalu yang berasal dari Malvern, Arkansas, dipenuhi oleh kuasa-kuasa penyembuhan.   Grant dikelilingi oleh tempat-tempat tidur pasien, kursi-kursi roda, dan tongkat-tongkat orang yang berpenyakitan.     Rumah–rumah sakit didaerah Seattle banyak mengirimkan mobil-mobil ambulance untuk mengantar pasien ke gereja. 
Keadaan sekitar gereja dipenuhi dengan orang-orang dan banyak kesembuhan terjadi dari segala penyakit disana secara teratur. Tidak semua yang datang sembuh dari penyakit mereka, tapi beberapa diantara mereka sembuh. Didalam misi penginjilan keluar negeri, keluarga penginjil pertama yang keluar adalah Pdt. Dick dan Christine Van Klaverans dan suami istri Pdt. Groesbeek beserta kedua anak perempuan mereka, Jenny (121/2 tahun) dan Corrie (6 tahun), berlayar dari Bethel Temple menuju Indonesia pada tanggal 14 Maret tahun 1921. Mereka ádalah penginjil Patekosta mula-mula diabad ke 20. 
Sekolah Alkitab pertama gereja Pantekosta dibuka oleh penginjil W.W.Patterson di Surabaya, Jawa Timur.  Banyak lagi pelopor-pelopor dari Bethel Temple dan kurang lebih lima belas Sekolah Alkitab didirikan serta dioperasikan dibawah orang-orang kebangsaan Indonesia termasuk guru-guru yang mengajar. 
Keluarga Groesbeek kembali ke rumah mereka pada tahun 1926 dan kembali ke pulau Jawa untuk perjalanan yang kedua mereka ditahun 1931. Pada tahun 1934, istri dari Pdt. Groesbeek sakit dan meninggal. 
Juga ditahun 1931, Louis Jonson dan Arland Wasell berlayar dari Bethel Temple dan melayani di Kalimantan, menyeberangi banyak sungai-sungai besar menuju ke pedalaman dari pada pulau itu melebihi dari penginjil-penginjil yang sebelumnya. 
Di tahun 1932 atau tahun 1933, suami istri Jim dan Faye Patterson mengikuti panggilan Tuhan untuk melayani firman yang hidup itu di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Jim diberitakan memiliki pelayanan didalam pengajaran dari kakak tertuanya, W.W.Patterson dan mempunyai pengetahuan tentang bahasa melayu yang cukup. Dimusim bunga tahun 1935, Jim Patterson terkena penyakit TBC yang cukup gawat dan Pdt. Offiler menginginkan untuk membawa mereka kembali kerumah mereka, tetapi kesehatan Jim semakin menurun. Jim mengatakan bahwa Ia lebih dekat ke surga dari tanah pelayanannya dari pada di Seattle. 
Pada tahun 1930, tiga dara memenuhi panggilan Tuhan menjadi penginjil di daerah Jawa dan Kalimantan. Gadis-gadis muda ini adalah Inice Presho, Iris Bowe, dan Eileen English. Di tahun 1933, Louis Johnson dan Eileen English bertukar janji, dan Corrie Groesbeek memainkan piano untuk acara yang berbahagia tersebut. 
Jumlah orang terbanyak yang menginjili dari Bethel Temple untuk berlayar ke luar negeri ádalah pada bulan Mei tahun 1936. Group yang mulia itu terdiri dari suami istri louis Jonson dan kedua anak mereka, Luke dan Virginia, Arland dan Margaret Wasell, Margaret Bahr, Curly Cochran, John Banks, dan Floyd Brown.Curly Cochran dan Margaret Wasell menikah diwaktu masa penginjilan mereka, begitu juga John Banks dan Iris Bowe. Ada sekitar lima anak dilahirkan oleh penginjil tersebut di Indonesia. Mereka adalah Richard Patterson, Sharon Cochran, Donna Patterson, Sam Brodland, dan Jill Patterson. John Peterson dilahirkan di Singapore.
Di akhir tahun 1930 dan 1940-an beberapa orang missionari meninggalkan Bethel Temple pergi ke Indonesia, beberapa diantara mereka adalah Ralph Devin family, pergi ke  Ambon, Ray and Beryle Busby, Ray dan Ruth Jackson, Bob dan Mary Edmondson serta Roberta anaknya, Al dan Hazel Edmondson, Inice Presho, Pdt. Groesbeek dan Corrie anaknya, suami istri Van Klaverans, W.W.Patterson beserta keluarga serta Joe dan Jean Mckinght, semua diatas kecuali Van Klaverans harus berangkat dari pelabuhan di Surabaya dibawah kekuasaan pemerintah Jepang pada bulan Januari tahun 1942. Mereka semua sampai dengan selamat dengan perlindungan Tuhan dari New Orleans, Louisiana.
Selama lima tahun pemerintah Jepang menduduki Indonesia, penginjil-penginjil dari Bethel Temple memberkati banyak jemaat disini. Bulan Maret tahun 1947, Joe dan Jean Mckinght berserta anak-anak mereka, Joann, Evelyn Thiederman, Pdt. W.W.Patterson dan keluarga, Carol Jessup, berlayar menuju Indonesia.
Sejak Pdt. Offiler berumur tujuh puluh tiga tahun dan kesehatannya semakin menurun, Ia memanggil balik Pdt. Patterson dan keluarganya dari Surabaya pada bulan September 1948 dan memberikan jabatannya sebagai gembala di Bethel temple kepada Pdt. W.W.Patterson. Juga ikut bersama Pdt. Patterson keluarga ialah Carol Jessup.  Carol menikah dengan Don Patterson pada musim panas tahun berikutnya.
Pada tahun 1947, Al dan Wilda Bade berangkat ke Kawloon, sebuah kota dekat kota Hongkong, untuk menemani June Tauber yang berkecimpung di pelayanan anak-anak yatim piatu disana. Ketika Partai Komunis mengambil alih China, Bade sekeluarga pergi ke Indonesia dan membantu mengajar Sekolah Alkitab di Bedji. Tidak lupa juga, Clare dan Margaret Soper berikut anak perempuan mereka, Geraldine dan Ruth, melayani suku Nomadic di Mongolia mulai akhir tahun 1930-an sampai pemerintah Komunis China menutup pintu untuk pekabaran injil disana.
Di penghujung tahun 1940-an, suami istri Soper, melayani singkat di kota Taipe, Taiwan. Di tahun 1947 atau 1948, suami istri Howard Gering meninggalkan Monroe, Washington menuju ke dataran China. Setelah pemerintah Komunis China menutup kembali pintu pekabaran injil disana, mereka kembali kerumah mereka untuk beberapa waku tinggal disana. Mereka berlayar menuju Indonesia bersama dengan anak perempuan yang paling kecil, Margaret Ann, dibeberapa saat sempat melayani di Sumatra Utara.
Setelah perang dunia kedua selesai, Kel, Jackson berangkat menuju Australia. Disana mereka membuka Sekolah Alkitab di kota Melbourne. Tidak lama sesudah adik dari Ray, Dale beserta keluarga bergabung bersama mereka untuk beberapa waktu, kemudian mereka menyudahi pelayanan mereka di Hawaii.
Sesudah perang dunia ke dua, Bob dan Mary Edmondson turut membantu Sekolah Alkitab yang terletak di Lawang. Ketika Keluarga Edmondson pindah ke kota Sorong, daerah Irian Jaya, Al dan Wilda Bade mengambil alih Sekolah Alkitab tersebut. Sesudah itu yang bertanggung jawab sebagai kepala dari Sekolah Alkitab tersebut adalah Joe dan Jean Mcknight, sesudah mereka melayani didaerah Timor, di pulau Roti dan Flores. Diakhir dari kepemimpinan keluarga Mcknight, Sekolah Alkitab dipindahkan ke Bedji. Pada saat Mcknigh memberikan Sekolah Alkitab tersebut kepada Bob dan Marian Brodland ditahun 1965, saat itu ada sekitar empat puluh lima orang yang terdaftar. Selama tiga puluh tahun keluarga Brodland mengepalai Sekolah Alkitab tersebut, ada banyak sekali yang lulus dari sekolah tersebut dari seluruh kepulauan Indonesia.
Keluarga Brodland kembali ke Seattle untuk memegang jabatan sebagai gembala di Bethel Temple pada tanggal 4 Juli tahun 1986. Pada tanggal 2 Januari tahun 1951, Don dan Carol Peterson bersama Daniel (8 ½ bulan), berlayar menuju ke Indonesia. Mereka memulai pelayanan mereka di daerah Sulawesi Utara selama lima belas tahun. Mereka juga mendirikan Sekolah Alkitab di Purbasari, Sumatra Utara selama dua belas tahun. Tidak lama setelah pernikahan mereka, Dan Lavonne Peterson berangkat ke pulau Jawa, dimana mereka membantu Sekolah Alkitab di Bedji selama satu tahun sebelum mereka bergabung dengan pelayanan dari orang tua dari Dan di Sumatra Utara.
Matt Lambert juga membantu pelayanan mereka di Sumatra Utara pada tahun 1973.  Pada bulan Januari tahun 1976, Matt dan Su menikah dan lanjut mengajar bersama dengan keluarga Peterson untuk beberapa tahun. Dan dan Lavonne Peterson kembali ke rumah mereka diawal tahun 1986 dan membantu melayani Pdt. Brodland di Bethel Temple sampai bulan Juli tahun 1987. Matt dan Su Lambert juga pernah melayani di Bethel Temple, Mountlake Terrace untuk beberapa waktu sebelumnya. Bob dan Marian Brodland mengundurkan diri sebagai gembala di Bethel Temple dihari Minggu pertama di bulan Agustus tahun 1992. Pdt. Gordon Adair dari Auckland, New Zealand menjadi gembala sementara untuk beberapa bulan sampai Dan dan Lavonne Peterson mengambil alih pada hari Minggu tanggal 27 Januari tahun 1993. Orang tua dari Dan, Don dan Carol Peterson, menjadi pendeta señior di Mountlake Terrace.
Selama pertengahan dan akhir tahun 1950-an, Morgan dan Mabel Peterson bergabung dengan Don dan Carol didalam kebaktian Raya dilapangan terbuka di daerah Manado. Tuhan mencurahkan Roh Kudus-NYA dan banyak orang diselamatkan serta disembuhkan dari penyakit didalam kebaktian-kebaktian ditempat-tempat terbuka tersebut.         Mae Perish menjawab panggilan Tuhan didalam hidupnya sebagai penginjil di Indonesia.  Pada bulan Juli tahun 1957, Ia berlayar menuju pulau Jawa dan lanjut ke Sulawesi Utara untuk bergabung bersama keluarga Peterson disana. Sementara itu, Mike Hanas meninggalkan Bethel Temple pada tahun 1958 dan berlayar menuju ke Sorong, Irian Jaya, untuk membantu pelayanan dari Bob dan Mary Edmondson berikut pendeta-pendeta penduduk asli disana.
Setelah tiga atau empat tahun berpisah, Mike dan Mae melanjutkan kisah cinta mereka dengan saling menyurat.  Mae bergabung dengan Mike di Sorong dan menikah di sana yang dipimpin oleh Bob Edmondson. Setelah beberapa waktu menetap di Sorong, Keluarga Hanases pindah ke Serui.   Setelah dua atau tiga tahun di Serui, mereka pindah ke Biak. Disana mereka membuka Sekolah Alkitab yang telah memberlatihkan dan meluluskan pendeta-pendeta national serta guru-guru dalam jangka waktu tiga puluh lima tahun. Keluarga Hanases kembali ke rumah mereka untuk pensiun dari tugas mereka pada bulan November tahun 1997, tetapi selama empat bulan mereka mengunjungi Biak, dimana Mae mengajar di Sekolah Alkitab disana.
Setelah mengembalakan di South Park, Richard dan Loretta Patterson bersama dengan ketiga anak mereka, berangkat menuju ke Biak menggantikan Keluarga Hanases yang dibutuhkan di rumah mereka karena terjadi kegerakan pilitik besar-besaran pada saat itu. Keluarga Patterson kembali ke rumah mereka. Dick dan Jeanette deQuiletted bersama anak-anak mereka, juga mengajar di Sekolah Alkitab Biak selama pertengahan tahun 1960-an.  Bill Patterson junior beserta keluarganya, juga mengabarkan injil di Mexico untuk beberapa waktu sebelum kembali ke rumah mereka menjadi pentolan gereja Bethel Temple didaerah Bonney Lake.
Sesudah itu, Keluarga Rhymes mengembalakan gereja di Chelsea Park, Burein.  Frank Yeadon dan keluarga, mengikuti panggilan Tuhan menuju ke Columbia, Amerika Selatan diawal tahun 1940an. Sebelumnya Frank dan keluarga mengembalakan di Ferndale. Pada tahun 1948 dan 1949, tidak lama sebelum Fidel Castro menjadi Presiden, keluarga Yeadon menginjili didaerah Cuba. Tiba-tiba Frank jatuh sakit dan hatinya tidak berfungsi dengan baik. Tidak lama setelah itu, Frank berpulang kepada Bapa disurga dikamar rumah sakit di Miami, Florida.
Diakhir tahun 1945, Pdt. J.C.Holden mengepalai sekelompok penginjil menuju daerah terpencil di pedalaman Columbia.  Mereka adalah Frank dan Dorothy Hornung beserta anak laki-laki mereka,    Frank Jr., Helen Thompson, Betty Walmsley, Gordon dan Bernice Weden berserta anak-anak, Margie macGowan dan Lois Staton.   Di tahun   1959-an atau sekitar tahun 1960-an, John dan Donna Verbarendse berikut anak-anak mereka, melayani untuk beberapa tahun di Suriname, yaitu salah satu pulau yang penduduknya brevaza Belanda dan terletak disebelah Utara dataran Africa Selatan.  Sesudah itu mereka melayani beberapa tahun sebagai penginjil di Spanyol.
Diwaktu yang bersamaan, Chuck dan Iva Eason berangkat menuju Costa Rica, dimana mereka berkecimpung di station radio Kristen dan kemungkinan juga di siaran televisi Kristen.  Ignacio Guevara, seorang yang berasal dari Columbia yang telah diubahkan Tuhan dengan dahsyat bersama istrinya yang berkebangsaan Amerika, Harriet, mendirikan Pan American Mission, yang mensponsori beberapa gereja di daerah Bogota dan Medellín.
Di tahun 1949, Mary Taylor, seorang penginjil dari Bethel Temple, berangkat menuju ke Jepang dan melayani di daerah Mizuho, Jepang. Salah seorang yang dimenangkan oleh Mary adalah Tanabe San, seorang pendeta yang mengembalakan sebuah gereja di Mizuho sekarang untuk beberapa tahun lamanya.  Manfred dan Hope Askew bersama dengan anak laki-laki dan perempuan mereka, mengembalakan sebuah gereja dipermulaan tahun 1950an. Dibulan Oktober tahun 1952, Ruth Kyllonen, bertolak dari Bethel Temple menuju ke Jepang untuk membantu pelayanan dari saudara perempuannya Hope di Mizuho.
Beberapa bulan kemudian, Ruth pindah ke Fussa, berdekatan dengan Bandar udara terbesar untuk pesawat-pesawat perang Amerika Serikat di Yacoda.  Disana Ruth merintis sebuah gereja. Ia melayani kebanyakan pilot-pilot pesawat perang Amerika Serikat, juga wanita-wanita Jepang dan anak-anak mereka.  Kemudian Ruth menginjil singkat di Taipe, Taiwan dan disebelah Selatan Perancis, berdekatan dengan bandar udara perang Amerika Serikat.  Sesudah beberapa waktu, Ruth memberitakan injil di daerah dekat Bandar udara perang Amerika Serikat disebelah Utara Thailand pada waktu perang melawan Vietnam.          Ruth selalu membuka pintu rumahnya dimana tentara-tentara bisa selalu mengunjungi diwaktu mereka tidak bertugas, ikut melayani disana, dan bersama saling membangun.
John dan Elsie Benton menyusul Ruth Kyllonen di Fussa. Sesudah mereka, Clyde dan Ivonne Bade berikut anak-anak mereka, Michael dan Suzanne, mengambil alih gereja di Fussa, tidak lama sebelum pergantian tahun 1961. Gereja di Fussa diberkati dengan seorang pendeta yang berskala national dan keluarga-keluarga beberapa tahun terakhir ini.   Pdt. Clyde Bade berpergian pulang pergi setiap tahun untuk mengayomi beberapa ladang pelayanan disana.   Dimusim bunga tahun 1967, George dan Maribeth Frazier serta anak-anak mereka, meninggalkan Mirror Lake Park menuju ke Jepang dan berlabuh di Fukuoka, sebelah Selatan pulau Kyushu.   Keluara Frazier mengajar dan menginjili Firman Tuhan.   Banyak orang-orang Jepang yang diselamatkan dan semakin maju didalam Tuhan ditahun ke tiga puluh delapan dari pelayanan mereka disana.
Di tahun peristirahatan mereka, keluarga Frazier mengelola sebuah rumah untuk wanita-wanita lanjut usia di Kenmore, Washington. Anak laki-laki keluarga Askew, Donald, bersama istri, Jean, dan anak-anak mereka untuk beberapa waktu bergabung dengan orang tua Donald di gereja mereka di Mizuho. Sesudah menggembalakan untuk beberapa waktu di gereja tempat kelahirannya, Mark dan Kathy Benton, dipanggil Tuhan untuk melayani di Jepang.   Jadi mereka berikut anak bayi laki-laki yang diadopsi mereka, Andrew, berangkat ke Kobe, Jepang, di bulan Agustus tahun 1991. Keluarga Benton masih melayani di daerah itu. Dimusim gugur tahun lalu, Mark dan Kathy Benton, berhasil mengadopsi satu pasang anak kembar, laki-laki dan perempuan, yang baru berumur tiga tahun nanti di bulan Desember. Matahari tidak pernah terbenam dipelayanan Bethel Temple dan setiap orang yang tergabung didalamnya selalu berkata,” Kepada Tuhan saja semua pujian dan hormat dari semua kemajuan rohani yang didapat,” Retreat Bethel Temple. (InggridMDotulong~IPRFPomona~gpdiworld2002).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silankan Mengisi Komentar anda dan email