Jumat, 21 Januari 2011

Sejarah GPDI Tahun 1920 – 1930

Pada tanggal 4 Januari 1921, empat orang mantan perwira Bala Keselamatan, yaitu Richard Dick, Christine Van Klaverans dan Cornelius Groesbeck beserta putri-putri mereka (Jennie, 12.5 tahun dan Corie Groesbeek, 6 tahun), warga negara Amerika keturunan Belanda ini berangkat dari Seattle ke Indonesia dengan kapal laut Suamaru ke Yokohama, Osaka, singgah di China, lalu ke Pulau Jawa.
Tanggal 23 Pebruari, mereka tiba di Batavia (Jakarta). Dari Jakarta melalui Mojokerto, Surabaya, Banyuwangi dengan menumpang kapal Varkenboot mereka tiba di Singaraja, Bali pada bulan Maret 1921. Kemudian menetap di Denpasar dalam sebuah gedung kopra dengan lantai batu bata yang telah hancur dan atap bangunan terbuat dari rumbia.
Letak gudang ini berada pada suatu taman yang berseberangan dengan pura Hindu. Gudangnya hanya berupa sebuah ruangan empat persegi dimana sebagian ruangan disekat untuk dijadikan 3 kamar tidur. Satu untuk suami isteri Groesbeck, satu untuk keluarga Van Klaveren dan satu lagi untuk Jennie dan Corrie. Sisanya merupakan sebuah ruangan besar yang luas yang berfungsi baik sebagai ruang tinggal (Living Room), ruang makan maupun sebagai dapur, dan sebuah kamar mandi.
Dengan penuh kesulitan mereka mulai menabur benih Injil Sepenuh dari rumah ke rumah. Mereka dengan sepeda mengunjungi desa-desa, berhenti untuk bercakap-cakap dengan penduduk dan menanyakan apakah diantara mereka ada yang sakit. Bila ada, mereka didoakan, dan Tuhan menyembuhkan mereka. Mula-mula Tuhan bekerja dengan cara demikian. Orang-orang yang beragama protestan belum pernah mendengar penyembuhan dengan cara ini atau tentang baptisan air dan kepenuhan Roh Kudus.
Banyak orang yang mempunyai luka bernanah datang kerumah mereka. Mereka menyobek seprei-seprei lama menjadi semacam perban untuk membalut luka-luka tersebut. Baru dikemudian hari diketahui bahwa mereka menderita penyakit kusta. Mereka semua didoakan. Karena begitu banyak orang yang datang ke rumah itu untuk mohon didoakan dan menerima kesembuhan, maka penduduk setempat bermaksud jahat terhadap mereka.
Didepan rumah tersebut terdapat sebuah pagar kecil dan selokan sepanjang jalan. Diatas selokan terdapat sebuah jembatan kecil yang menuju rumah. Hari berikutnya penduduk Bali menceritakan tentang rencana jahat itu. Mereka tidak dapat melaksanákan rencana tersebut karena mereka melihat malaikat-malaikat yang berdiri di pintu masuk rumah. Tuhan telah membela mereka.
Apa yang mereka kerjakan di sana juga telah mengundang reaksi keras imam-imam Hindhu. Hal ini mendorong Pemerintah Belanda melarang hamba Tuhan ini menetap dan menginjil di Bali dengan alasan takut merusak kebudayaan asli penduduk Bali. Seringkali mereka mengirim agen-agen dari dinas rahasia untuk memata-matai selama kebaktian berlangsung karena mereka menyangka bahwa mereka adalah orang Bolsjewik. Mereka senang, bahwa dengan jalan demikian si mata-mata dapat mendengarkan kabar Injil.
Oleh sebab itulah maka keluarga Van Klaverens harus meninggalkan Bali dalam waktu 3 hari. Karenanya, setelah sekitar 21 bulan berada di Bali, ketika menjelang Natal tahun 1922, kedua keluarga ini berangkat ke Surabaya, kemudian keluarga Rev.Richard van Klaverans menuju ke Batavia. Di Surabaya, Rev.Cornelius E.Groesbeek berkenalan dengan Ny.Wijnen yang mempunyai seorang keponakan yang bekerja di BPM Cepu (Shell), yaitu Sdr. F.G.Van Gessel. Dengan perantaraan Ny.Wijnen yang telah menerima kesembuhan Illahi lewat pelayanan Rev.Cornelius E.Groesbeek, maka Sdr.Van Gessel dapat berjumpa dan berkenalan dengan beliau.
Sdr.Van Gessel menyambut hangat Rev.Groesbeck karena memang telah lama dia ingin lebih mengerti dan mendalami Injil yang selama ini dibacanya. Berita Pantekosta disambutnya dengan penuh sukacita, lalu pada bulan Januari 1923 dimulailah kebaktian Pantekosta yang pertama di Deterdink Boulevard, Cepu. F.G.Van Gessel dengan istri, pegawai tinggi BPM bergaji F.800 (800 Gulden), bertobat dan menerima Injil Sepenuh. Kebaktian itu berlangsung terus dengan baik dan jumlah pengunjung bertambah hingga mencapai 50 orang.
Kebaktian di Cepu ini mengalami tantangan keras. Mereka diejek, diolok, dan dituduh sebagai aliran yang menyesatkan. Ds.Hoekendijk menegaskan bahwa kebaktian Pantekosta yang di Cepu dan mujizat yang terjadi didalamnya berasal dari Setan. Namun demikian, Tuhan bekerja luar biasa. Tiga bulan kemudian pada 30 Maret 1923 terjadi suatu peristiwa penting yang menjadi salah satu tonggak sejarah Gereja Pantekosta di Indonesia. Benih Injil Sepenuh yang ditabur dengan linangan air mata sejak Maret 1921 di Bali, mengeluarkan buah pertama dengan diadakannya baptisan air di Pasar Sore Cepu bagi 13 orang. Baptisan ini dilakukan oleh Rev.Cornelius E.Groesbeck dan dibantu oleh Rev.J.Thiessen, seorang missionary dari Belanda. Di antara 13 orang itu terdapat suami istri F.G.Van Gessel, suami istri S.I.P.Lumoindong dan Sdr.Agust Kops.
Antara tahun 1923-1928 jemaat di Cepu menghasilkan tidak kurang dari 16 hamba Tuhan yang menjadi pioner-pioner Gereja Pantekosta di Indonesia dan menyebar ke Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Diantara meraka adalah: F.G Van Gessel, S.I.P Lumoindong, W.Mamahit, Hessel Nogi Runkat, Effraim Lesnussa, Frans Silooy, R.O.Mangindaan, Arie Elnadus Siwi, Julianus Repi, Alexius Tambuwun, G.A.Yokom dan J.Lumenta.
Pada tanggal 19 Maret 1923 berdirilah Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie yang berkedudukan di Bandung dengan susunan pengurus sebagai berikut:
Ketua: Pdt. D.H.W.Weenink Van Loon
Sekretaris: Pdt.Paulus
Bendahara: Pdt.G.Droop
Dan pada tanggal 30 Maret 1923, badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, tertanggal 4 Juni 1924 di Cipanas, Jawa Barat, serta diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Gereja) dengan Beslit No. 33, Staatblad No. 368. Perkembangan selanjutnya, gerakan ini dengan cepat menyebar dari Surabaya ke seluruh Jawa Timur, Sumatera Utara, Minahasa, Maluku dan Irian.
Disamping Pengurus diatas yang bertanggung jawab terhadap Pemerintah, maka diadakan pula suatu Convent hamba-hamba Tuhan yang tua terdiri dari :
Pdt. F.G.Van Gessel
Pdt. Weenink Van Loon
Pdt. F.Van Abkoude
Pdt. D.Van Klaverans & Istri
Pdt. H.Horstman
Pdt. M.A.Alt.
Pada tahun 1924, Gereja Bethel Temple mengirim sebuah tenda besar yang dapat dipasang untuk kebaktian. Rev.Groesbeck berkhotbah dalam bahasa Belanda dan ada orang yang mènterjemahkan. Dan ternyata ada banyak jiwa diselamatkan dan dipenuhi dengan Roh Kudus. Saat itu juga mereka mulai belajar bahasa Indonesia. Sewaktu di Bali-pun Tuhan sungguh heran dan Tuhan menyediakan orang yang menterjemahkan bila Rev.Groesbeck berkhotbah. Jennie kemudian juga belajar untuk berbahasa Jawa.
Di tahun 1926, Sdr.Nanlohy mulai memberitakan Injil sepenuh di Amahasa dengan mengalami banyak tantangan. Mayoritas penduduk kepulauan Maluku adalah beragama Kristen, namun kehidupan kekristenan didaerah ini adalah agama nenek moyang. Kemudian datang Sdr.Kipur, Sdr.Tumbel disusul Sdr.Yocom, Sdr.Yoop Seloey dan Sdr.Rikihena. Dengan demikian Injil sepenuh menjalar keberbagai pelosok Maluku.
Pada bulan Maret 1927 Sdr.Groeneveld seorang pegawai doane di Balikpapan, Kalimantan Timur mulai mengadakan persekutuan doa/kebaktian rumah tangga. Pada tahun 1930 Pdt.Debur datang dan memberitakan Injil di kota ini juga. Kèmudian disusul Pdt.Pattirajawane lalu datang pula Rev.Wassel.
Pelopor Injil Sepenuh yang patut dicatat untuk daerah Kalimantan Selatan adalah sdr.Pattirajawane, disusul sdr.Graaftal, kemudian sdr.J.J.Walewangko pegawai BPM, disusul pula sdr.Liem Hwa Seng.
Sdr.Yonathan Itar adalah pelopor Injil sepenuh di pulau Irian Jaya yang luas ini. Perjuangan beliau sangat berhasil sehingga saat ini telah ada lebih dari 350 gereja Pantekosta di Irian Jaya. Ditempat ini juga ada Sekolah Alkitab untuk mendidik calon-calon hamba Tuhan.
Daerah Istimewa Yogyakarta yang diperintah oleh Sri Sultan, kota yang dijuluki sebagai kota “gudeg” dan ‘kota mahasiswa/pelajar.” mendapat lawatan Tuhan. Gereja Pantekosta di Indonesia Yogyakarta mulai diperkenalkan ketika Pendeta S.I.P.Lumoindong membuka kebaktian pertama tahun 1928 di jalan Ngupasan. Kemudian antara tahun 1928-1930 tempat kebaktian dipindahkan ke jalan Góndomanan dan jalan Yudonegaran, yang dipimpin pendeta Abkoede dibantu Pdt.Jóhan Van Der Lip dan adiknya Pdt.Piet Van Der Lip.
Kemudian dengan memakai nama ‘De Pinkster Gemeente’ mereka berpindah lagi ke Ngadiwinatan dan empat tahun kemudian pindah ke Poncowinatan dilayani oleh Pdt.Theunis Andriesse. Ternyata di tempat baru itu mereka hanya bertahan beberapa bulan dan kemudian dipindah lagi ke Ronodigdayan menempati rumah kecil yang sangat sederhana.
Beberapa waktu kemudian Ny. Smith membuka sendiri kebaktian De Pinkster Gemeente di jalan Sindunegaran, Bumijo, dan seorang pengusaha Go Djoen Bok mengusahakan rumah yang lebih strategis di jalan Tugu Kulon (sekarang Jl.P.Diponegoro) no:28 hingga sekarang. Sedang tempat kebaktian di Ronodigdayan karena keuangan gereja lebih lemah dibanding dengan gereja di Tugu Kulon kemudian dipindahkan ke Bausasran Kidul dibawah pimpinan Pdt.Christ Van Thiel. Kemudian dibuka lagi dua gereja masing-masing oleh Pdt.Johan Van Der Lip dengan nama Pinkstervreugd di jalan Ngupasan dan Pdt.Piet Van Der Lip dengan nama Pinksterzending di Sosrowijayan.
De Pinkstergemeente Bausasran semakin berkembang sehingga tempat kébaktian tidak bisa menampung jemaat yang ada sehingga mereka dipindahkan ke jalan Lempuyangan 15 (sekarang Jl.Hayam Wuruk). Pembantu pendeta pada waktu itu ada 5 orang, salah seorang diantaranya adalah Sdr.The Kiem Koei (Raden Gideon Sutrisno).
Pada tanggal 13 Maret 1929, dua orang pemuda utusan Injil bernama A.Tambuwun dan J.Repi mendarat di pelabuhan Manado dengan meñumpang kapal motor “Van Dér Hagen”. Propinsi Sulawesi Utara adalah daerah Kristen karena mayoritas penduduknya beragama Kristen. Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) adalah gereja yang tersebar diseluruh pelosok Minahasa. Namun Injil sepenuh melalui Pinksterkerk (sekarang GPdI) kemudian masuk menembus pelayanan di daerah ini.
Kedatangan mereka telah diketahui terlebih dahulu oleh beberapa anak Tuhan karena Tuhan telah memberitahukan kedatangan mereka melalui nubuat yang diucapkan oleh Sdr.D.Kalangi. Tanggal 14 Maret 1929 mereka tiba di Langowan dan diterima dengan sukacita oleh Keluarga W.Saerang.
Langowan sebuah kota kecamatan mendapat kehormatan Injil sepenuh melalui pemberitaan Pinksterkerk. Kebaktian perdana dihadiri oleh 40 orang. Tuhan bekerja dengan heran. Sdr.W.Saerang mendapat kepercayaan Tuhan karena Injil Pantekosta diberitakan dirumahnya. Pada kesempatan Itu Sdr.Alexius Tambuwum pulang kekampung halamannya di Tambeläng, dan Sdr.Julianus Repi ke Ranomea, maka di masing-masing tempat tersebut mereka juga memberitakan Injil Sepenuh.
Pada tanggal 1 Desember 1929 diadakan baptisan air perdana bagi mereka yang telah percaya Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Baptisan air ini diikuti oleh 42 orang yang terdiri dan 14 orang dari Langowan dan 28 orang dan Ranomea Amurang.
8 Nopember 1929 Keluarga J. Lumenta tiba dari Surabaya dan mendarat di pelabuhan Amurang, dan pada bulan yang sama tiba pula Sdr.E.Lesnussa, dan pada awal tahun 1930 datang pula hamba Tuhan Keluarga Albert Jocom. Barisan utusan-utusan Allah untuk pemberitaan Injil di Sulawesi Utara menjadi makin kuat. Mereka menyebar ke berbagai pelosok Minahasa dan memberitakan Injil dalam kuasa dan urapan Roh Kudus. Tahun 1933 datang pula Pdt.Runtuwailan dan Sdr.L.A.Pandelaki ke Sulawesi Utara untuk memperkuat barisan hamba-hamba Allah.
Pada tahun 1930, tiga dara dari Seattle memenuhi panggilan Tuhan menjadi penginjil di daerah Jawa dan Kalimantan. Gadis-gadis muda ini adalah Inice Presho, Iris Bowe, dan Eileen English. Setelah beberapa saat di Magelang kemudian mereka melayani kebaktian rumah ke rumah di Solo. Inice Presho kemudian mengadakan pelayanan di Surabaya. Juga ditahun 1931, Louis Johnson dan Arland Wasell berlayar dari Bethel Temple dan melayani di Kalimantan, mereka menyeberangi banyak sungai-sungai besar menuju ke pedalaman dari pulau tersebut melebihi dari penginjil-penginjil lain yang pernah lakukan sebelumnya. Tapi akhirnya mereka terpaksa kembali ke Jawa karena Arland Wassel sakit malaria, dan Inice Presho yang memang juru rawat mengasuhnya.
Arland hampir tidak mampu sampai kerumah karena lelahnya perjalanan dengan kereta api dari Surabaya. Louis Johnson ternyata mengadakan hubungan dengan Eileen English dan bertunangan pada hari Valentin di tahun 1933, yang kemudian diteruskan dengan pernikahan di Magelang dan pesta diadakan di Solo. Corrie Groesbeek memainkan piano untuk acara yang berbahagia tersebut.
Pelayanan keluarga Groesbeck periode ke 2 berlangsung selama 8 tahun, yaitu dari Agustus 1930 sampai Oktober 1938. Keluarga Groesbeck kembali ke rumah mereka pada tahun 1926 dan kembali ke pulau Jawa untuk perjalanan yang kedua mereka ditahun 1930

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silankan Mengisi Komentar anda dan email