Jumat, 21 Januari 2011

Sejarah GPDI Tahun 1940 – 1950

Pada tahun 1941, Pdt.D.Sinaga keluar dari ‘de Pinksterkerk in Nederlandch Indie’ dan mendirikan Gereja Pantekosta Sumatera Utara. Tahun 1942 – 1947. Dengan pecahnya Perang Dunia ke II, dan sesudah perang dunia II, pimpinan GPdI adalah Pdt.H.N.Runkat menggantikan Rev.Van Gessel karena gerakan nasionalisme. Pimpinan organisasi tersebut kemudian diserahkan kepada putera-putera Indonesia dan disebut Badan Pengoeroes Oemoem (B.P.O) dengan susunan personalia sebagai berikut :

Pdt.H.N.Runkat (Ketua) – Jakarta
Pdt.S.I.P.Lumoindong – Semarang
Pdt.R.M.Soeprapto – Malang
Pdt.R.O.Mangindaan – Mojokerto
Pdt.Liem Bian Hok - Tulungagung
Pdt.L.Nanlohy - Lumajang.

Tahun 1946, Pdt.Tan Hok Tjwan keluar dari ‘de Pinksterkerk in Nederlandch Indie’ dan mendirikan Sing Ling Kau Hwee yang kemudian pada tahun 1957 menjadi Gereja Isa Almasih.

Selama lima tahun pemerintah Jepang menduduki Indonesia, penginjil-penginjil dari Bethel Temple menjadi saluran berkat bagi banyak jemaat disini. Bulan Maret tahun 1947, Joe dan Jean McKnight berserta anak mereka, Joann, Evelyn Thiederman, Pdt.W.W.Patterson dan keluarga, Carol Jessup, berlayar kembali menuju Indonesia.

Perintis kabar Pantekosta di kepulauan Sangir Talaud adalah ibu Pdt.Saripada. Ia memulai pekerjaan di Manganitu, sebuah desa di Sangir besar. Kemudian disusul dengan kedatangan Kel.Piang Tjoen Hong yang meneruskan pekerjaan yang pernah dirintis oleh Ibu Saripada. Pdt.Piang Tjoen Hong kemudian membuka pekabaran Injil di Tahuna (Ibu kota Kabupaten Sangir Talaud). Kel.Piang Tjoen Hong sangat menderita dalam hidupnya. Piring makannya dari seng, dan kaleng menjadi tempat minumnya. Ia sangat menderita karena Injil, sampai ia mati. Kemudian datang keluarga Pdt.D.L.Masie melanjutkan perjuangan Pdt.Piang Tjoen Hong.

Pada bulan September 1948 datang ke Manganitu, Tahuna serombongan pendeta dari Menado yaitu: Pdt.S.J.Sito, Pdt.C.M.Elias, Pdt.C.A. Lahinda dan ex angkatan 1 Sekolah Alkitab Langowan Sdr.S.Sriyoto dengan accordionnya. Lawatan ini dilanjutkan ke P.Siau dan ditempat ini mereka mengadakan kebaktian perdana, kemudian mereka pulang ke Menado. Rupanya Roh Tuhan menggerakkan hati Sdr.S.Sriyoto saat itu dan ia merasa terpanggil melayani pekerjaan di P.Siau. Olehnya dengan menumpang kapal motor Perindo Sdr.Sriyoto pada tanggal 8 Desember mendarat di Hulu-Siau. Maka pada tanggal 11 Desember 1948 Sdr.Stefanus Sriyoto dengan resmi memulai pelayanan di Hulu-Siau. Kebaktian dimulai dengan Kebaktian Sekolah Minggu dan ia memainkan accordionnya supaya banyak membantu mengerahkan massa di Siau. Maka segera dimulai kebaktian orang dewasa juga. Hingga pada bulan Januari 1949 sudah terdapat 50 anak dan orang dewasa yang mengikuti kebaktiannya. Dan sesudah 3 bulan diadakan baptisan air bagi 13 jiwa. Puji Tuhan. Tahun berikut dibuka kebaktian di Pehe, dan tahun berikutnya lagi dibuka kebaktian di Ondong.

Untuk strategi perkembangan selanjutnya, Sdr.Julianus Repi mengadakan kursus Latihan Pengerja di Winebetan Langowan, kursus ini dimulaikan pada tahun 1947 dan telah menghasilkan banyak pengerja. Hampir 250 orang pernah berada dibawah didikannya. Pdt.J.Repi seorang pendidik yang keras dan disiplin, namun pelayanannya sangat diberkati Tuhan. Salah seorang anak asuh yang sampai saat ini masih bertahan adalah Pdt.A.S.Kaawoan yang menjadi Pemimpin Sekolah Tinggi Alkitab Langowan. Atas jasa-jasa ibu Etik Pandelaki maka di Sulawesi Utara didirikan “Panti Asuhan” yang pertama di lokasi Air mandidi.

Tahun 1948, Pdt.Renatusa Siburian dan saudaranya, Lukas Siburian keluar dan bergabung dengan Gereja Pantekosta Sumatera Utara.

Tahun 1948, setelah selesai Perang Dunia II, sekembalinya Rev.W.W.Patterson dari USA ke Indonesia untuk mendirikan sekolah Alkitab di Jakarta, tetapi karena situasi keamanan yang belum mengijinkan, dan karena P.Jawa masih dilanda revolusi fisik, maka beliau berangkat menuju Sulawesi Utara untuk membuka sekolah Alkitab di sana. Namun sementara melakukan persiapan, datanglah panggilan dari jemaat Bethel Temple Seattle supaya beliau menggembalakan jemaat di sana menggantikan Rev.W.H.Offiler. Karena Rev.W.W.Patterson harus kembali ke Amerika, maka beliau meminta Pdt.Sito Swie Yen (Samuel Yusak Sito), gembala jemaat Tumalutung (Sulawesi Utara, Ton sea) untuk membuka Sekolah Alkitab.

Kepada Pdt.S.J.Sito beliau memberikan uang tunai sebesar Rp. 7.500, sebuah radio dan 4 sepeda motor kecil untuk diuangkan sebagai bekal pembukaan sekolah Alkitab di Langowan. Sedangkan untuk Pdt. S.J.Sito pribadi diberikan 1 karung beras dan 1 drum berisi makanan kaleng. Dengan modal pemberian Rev.W.W. Patterson, maka Pdt.SJ.Sito membeli sebidang tanah di samping gereja Pinkster Beweeging Langowan berukuran 30 x 10 m dengan harga Rp.2.500. Dibelinya juga 2 buah rumah papan berukuran 6 x 7 m yang kemudian dipindahkan ke lokasi dimana sekolah Alkitab akan didirikan. Sisa uang digunakan untuk membuat meja dan kursi belajar. Dengan demikian dimulailah angkatan perdana Sekolah El’kitab Bethel (Sekolah Alkitab Langowan) pada 4 Maret 1949 dengan 97 siswa-siswi. Mereka antara lain adalah Sdr.S.Sriyoto, Sdr.Mamangkey, Sdr.Mangkey, Sdr.Tjoa Kee Yao, Sdr.Anakota, Sdr.Zr.Benyamin dan lain-lain dan tamat pada 3 September 1949. Perlu dicatat sebelum sekolah Alkitab ini dimulai Pdt.Repi telah mengadakan kursus Alkitab 4 bulanan tiap angkatan yang dimulai pada tahun 1948.

Angkatan perdana Sekolah El’kitab Bethel terbagi 2 kelompok, yaitu siswa-siswi biasa dan para gembala jemaat. Untuk siswa-siswi biasa pendidikan selama 6 bulan dan telah diluluskan 55 orang. Sedangkan untuk para gembala jemaat selama 4 bulan dan telah diluluskan 18 orang. Biaya asrama berupa 15 kg beras (saat itu harga beras 75 sen per kg) ditambah Rp.2,50 untuk stensilan bahan pelajaran.

Pendidikan theologia terus berkembang di Gereja Pantekosta, dan pada tahun 1948 itu juga datang Rev.R.E.Edmondson, utusan lnjil dari Bethel Temple Seattle Amerika Serikat, dan membuka Sekolah Alkitab di Lawang pada tahun 1949. Untuk 6 tahun lamanya sekolah Alkitab itu bertempat di Lawang dan pada September 1959 dipindahkan ke Beji, Batu. Dan kita patut bersyukur karena sekarang Sekolah Alkitab Beji telah berkembang pesat dengan fasilitas yang memadai. Di bawah asuhan Pdt. A.H. Mandey dan Pdt. J.M P.Batubara telah dibangun sebuah perumahan guru yang indah, sebuah asrama bertingkat yang mampu menampung 250 siswa, juga tempat Youth Camp untuk pembinaan pemuda setiap tahun.

Untuk mengikuti gerak laju dunia pendidikan maka Panitia Pembangunan Sekolah Alkitab Beji (Batu) telah membangun sebuah gedung auditorium berkapasitas 2.500 orang yang menelan biaya hampir 500 juta rupiah. Sungguh, Dialah Allah “JEHOVAH JIREH” dan EL – SHADDAI, itulah sebabnya sebagai tanda ucapan syukur pada Allah, asrama pria berkapasitas 250 siswa dinamai EL’SHADDAI. Bangunan auditorium ini diselesaikan dalam waktu 7 bulan dan ditahbiskan pada September 1991 menjelang pembukaan MUBES XXVII.

Selain Sekolah Alkitab Langowan (Sulawesi Utara) dan Beji / Batu (Jawa Timur), juga didirikan Sekolah Alkitab di Biak (Irian Jaya), di Purbasari (Sumatera Utara), di Malino (Sulawesi Selatan), di Palembang (Sumatera Selatan), di Bandar Lampung (Lampung), di Tentena (Sulawesi Tengah), di Balikpapan (Kalimantan Timur), di Anjungan (Kalimantan Barat), di Ambon (Maluku), di Salatiga (Jawa Tengah), di Cianjur (Jawa Barat), dan di Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Di samping Sekolah- sekolah Alkitab tersebut, masih ada 3 Perguruan Tinggi yaitu:

1. Jember Bible Collage (JBC). Sekolah Tinggi Alkitab / Seminari Jember (Jawa Timur) Pimpinan: Pdt. Dr. L. Lapian, Alamat: P0 Box 129, Jember / JI. Panglima Sudirman 42, Jember 68118. TeIp. (331) 21943, 82842.

2. Sekolah Tinggi Alkitab Salatiga (Jawa Tengah). Akademi Theologia Alkitab Salatiga (ATHAS) Pimpinan: Pdt. J.M.P. Batubara Jr. S.Th. Alamat: P0 Box. 17, Salatiga 50712.

3. Sekolah Alkitab Langowan (Sulawesi Utara) Pimpinan: Pdt. A.S. Kaawoan S.Th. Alamat: Raranon Koyawas, Langowan.

Sejak Rev.Offiler berumur tujuh puluh tiga tahun dan kesehatannya semakin menurun, Ia memanggil Rev. Patterson dan keluarganya dari Surabaya pada bulan September 1948 dan memberikan jabatannya sebagai gembala di Bethel temple kepada Rev.W.W.Patterson. Juga ikut bersama Rev. Patterson keluarga adalah Carol Jessup. Carol menikah dengan Don Patterson pada musim panas tahun berikutnya.

Pada Tahun 1947-1949, Dalam Musyawarah Nasional ke 14 yang diadakan di Solo terbentuklah B.P.O GPdI yang terdiri dari:

Pdt.H.N.Runkat (Ketua) - Jakarta
Pdt.R.M.Soeprapto - Malang
Pdt.S.I.P.Lumoindong - Semarang
Pdt.R.O.Mangindaan - Mojokerto
Pdt.J.Syaranamual - Jakarta

Tahun 1949 – 1951. Dalam Musyawarah Nasional ke 15 di Jakarta B.P.O menjadi B.P.U. Terdiri dari :

Pdt.H.N.Runkat (Ketua) – Jakarta
Pdt.R.M.Soeprapto - Malang
Pdt.S.I.P.Lumoindong - Semarang
Pdt.R.O.Mangindaan - Mojokerto
Pdt.E.Lesnussa - Ujung Pandang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silankan Mengisi Komentar anda dan email